SURABAYA - Bagi penggemar motor tua tentu tidak asing dengan nama Cak Zam.
Pemilik nama Zamrony ini dikenal sebagai mekanik andal motor-motor pabrikan Eropa yang digunakan pada zaman penjajahan Belanda.
Mengunjungi bengkelnya di kawasan Menur Pumpungan, Surabaya, kesan ruang yang luas dengan motor terjejer rapi tidak tampak sama sekali.
Hampir setiap hari Cak Zam memperbaiki motor pelanggannya di sebuah lorong yang menjadi jarak antar rumah.
"Saya menyebutnya lorong kehidupan. Artinya di lorong yang tertutup ini ada kehidupan. Selain itu motor yang lama mati akhirnya bisa hidup lagi. Itu maknanya," ujarnya kepada Radar Surabaya, Senin (8/7).
Cak Zam tak pernah menyangka jika akhirnya menjadi terkenal sebagai mekanik motor tua seperti sekarang. Ia mengaku awalnya cuma hobi motor tua.
"Jadi tahun 1986 saya merantau ke Bali ikut kakak yang sudah usaha benerin jok. Awalnya saya tertarik dengan motor tua ketika seorang temen di Bali sering main ke rumah saya sambil bawa motor tua. Saya lihat motor tua ini kok unik ya, muncul rasa kepingin punya," ungkapnya.
Hingga akhirnya tahun 1990, Cak Zam yang saat itu masih bujang, membeli motor tua klasik merk BSA.
"Saya beli waktu itu, seharga Rp 1.700.000 banyak yang bilang kemahalan karena saat itu harusnya Rp 500.000 sudah dapat. Saya beli kondisinya elek pol, tapi saya senangnya karena masih lengkap," katanya.
Hingga suatu ketika motor milik Cak Zam rusak karena dirinya keliru pasang selang.
"Sehingga hampir satu mingggu motor saya gunakan tanpa oli. Akhirnya jebol mesinnya. Wong niat awalnya itu saya cat, pas pasang selang itu salah penempatannya," ungkapnya.
Karena lama tidak terlihat menggunakan motor tua, Cak Zam diberi buku panduan servis motor tersebut oleh temannya.
Namun karena tidak bisa bahasa Inggris, dia minta mahasiswa teknik Universitas Udayana untuk menerjemahkan.
"Bahkan saya juga minta turis yang ada di pantai untuk menerjemahkan. Setelah saya paham, motor saya benerin. Alhamdulillah bisa," katanya.
Setelah itu, Cak Zam aktif ikut touring bareng komunitas motor tua di Bali.
“Yang namanya motor tua zaman itu kan sudah pasti mogok, nah pas touring itu saya bantu benerin di jalan. Lama kelamaan, teman-teman kalau motornya rusak minta benerin ke saya. Sejak saat itu saya mulai buka bengkel motor tua di Bali," imbuhnya.
Cak Zam mengaku pernah diajak orang Inggris untuk bekerja sama membuka bengkel di negaranya. Namun permintaan tersebut ditolaknya.
"Pikiran saya cari makan sepiring aja kok jauh sekali. Toh ini bukan saya anggap pekerjaan. Ini cuma hobi," katanya.
Lebih lanjut Cak Zam mengungkapkan alasannya untuk kembali tinggal di Surabaya.
"Jadi saat itu anak saya yang pertama mondok di Sumenep. Kalau ada keluhan sakit sedikit minta dijenguk. Daripada sering bolak-balik Bali - Sumenep akhirnya saya ajak keluarga pindah tinggal di Surabaya," ungkapnya.
Berbekal keahlian dalam servis motor tua dan banyak yang pecinta motor tua di tanah air yang mengenalnya, Cak Zam membuka bengkel di rumahnya.
Meski hanya di sebuah lorong namun pelanggannya tidak hanya dari Jawa Timur, tapi dari berbagai daerah di luar Pulau Jawa.
"Ada yang dari Tanjung Pinang, Aceh, Bali dan lainnya. Mereka mengirimnya lewat paket," katanya.
Motor paling tua yang pernah diservis olehnya adalah merk FN tahun 1914.
"Si pemilik sudah servis kemana-mana tidak bisa. Tapi pas saya benerin bisa," ungkapnya.
Cak Zam mengaku kalau dulu dirinya menyediakan sparepart. Tapi sekarang ia hanya menunjukkan link dimana sparepart itu bisa dibeli.
"Jadi pemiliknya yang beli. Kalau dulu informasi pembelian sparepart kan sulit tidak seperti sekarang ada internet. Tapi kalau pemiliknya terima beres ya saya yang nyari," katanya.
Terkait biaya pengerjaan motor tua, Cak Zam mengaku beragam, tergantung tingkat kesulitan.
"Kalau bongkar mesin minimal Rp 4 juta dan saya pastikan tidak sampai 1 bulan selesai. Karena prinsip saya jangan sampai bayarannya kalah dengan kuli batu,” ujarnya.
“Kalau misal Rp 4 juta selesainya berbulan-bulan, kan saya yang rugi. Prinsip saya, yang penting cepat selesai baru saya terima garapan lain," pungkasnya. (mus/nur)
Editor : Nurista Purnamasari