Ekonomi Gresik Hobi & Lifestyle Jatim Mancanegara Nasional Olahraga Person of The Year Piala Dunia 2026 Selebriti Sidoarjo Surabaya Surabayapedia Tekno & Oto Wisata & Kuliner

Kuatkan Identitas Masing-Masing Zona di Kawasan Kota Lama Surabaya Lewat Ornamen, Kya Kya Kembang Jepun Dipenuhi Warna Merah

Dimas Mahendra • Selasa, 25 Juni 2024 | 00:05 WIB

 

SERBA MERAH: Kawasan zona Pecinan kawasan Kota Lama Surabaya, tepatnya di Jalan Kembang Jepun, sudah dipasangi pernak-pernik indah. (SURYANTO/RADAR SURABAYA)
SERBA MERAH: Kawasan zona Pecinan kawasan Kota Lama Surabaya, tepatnya di Jalan Kembang Jepun, sudah dipasangi pernak-pernik indah. (SURYANTO/RADAR SURABAYA)

RADAR SURABAYA - Pemerintah Kota Surabaya terus mematangkan konsep wisata kota lama.

Sejumlah infrastruktur penunjang sudah dipasang mulai dari ruas Jalan Rajawali Zona Eropa, hingga di ruas Jalan Kembang Jepun yang jadi area Pecinan.

Kepala Dinas Kebudayaan, Pemuda, Olahraga, dan Pariwisata (Disbudporapar) Surabaya Hidayat Syah mengatakan, persiapan masing-masing zona sedikit demi sedikit sudah mulai rampung.

Salah satunya adalah dengan melengkapi ornamen masing-masing zona untuk penguatan identitasnya.

Misalnya di kawasan Kota Lama zona Pecinan, ornamennya serba merah.

"Iya ada ornamen-ornamen seperti tulisan china di masing-masing bangunan untuk yang di Kya Kya itu. Lalu ada tempat sampah yang desainnya lekat dengan identitas chinese itu juga kita lengkapi semua," kata Hidayat, Senin (24/6).

Dia menyampaikan, penguatan identitas masing-masing zona ini sangat penting dalam konsep wisata heritage Kota Lama.

Tujuannya adalah untuk menimbulkan kesan yang begitu kuat pada para pengunjung ketika masuk di masing-masing zona tersebut.

"Kesannya kita membawa mereka ke suasana yang khas seperti Kya Kya itu sesuai zonanya adalah pecinan," ucapnya.

Di sisi lain, Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Daerah, Penelitian, dan Pengembangan (Bappedalitbang) Kota Surabaya, Irvan Wahyudrajad mengatakan, penataan wisata kota lama ini salah satu tujuannya adalah untuk mengingat kembali sejarah peradaban Kota Surabaya yang terjalin erat dalam benang kebhinekaan.

Dalam area kota lama ini, Irvan mengatakan sebenarnya menurut dia ada empat zona.

Zona-zona yang terbagi itu adalah Eropa, Arab, Pecinan, dan Melayu.

Pada zaman Belanda dulu, dia mengungkapkan, area kota lama ini merupakan pusat pemerintahan, bisnis, hingga pertukaran budaya.

"Penataan Kota Lama Surabaya ini, akan terus dikembangkan dan ditata. Tidak hanya sekadar sebagai destinasi wisata heritage, tapi juga akan menjadi destinasi wisata pendidikan, wisata kuliner, dan juga wisata religi,” katanya.

Oleh karena itu, pemerintah menurut dia menginginkan, area ini tidak hanya jadi tujuan objek wisata saja.

Melainkan, area kota lama ini bisa menjadi tempat untuk kilas balik bagaimana sejarah Kota Pahlawan ini bisa terbentuk.

“Kota Lama Surabaya adalah wadah peleburan berbagai budaya, di mana harmoni dan toleransi menjadi landasan utama kehidupan masyarakatnya. Di sini, perbedaan bukan menjadi pemisah, melainkan kekuatan pemersatu yang melahirkan kekayaan budaya tak ternilai,” jelas Irvan.

Dia mengungkapkan, penataan Kota Lama ini tidak akan berhenti sampai di sini saja.

Dia mengaku, pemerintah akan terus mengembangkan area tersebut dan mengintegrasikan satu wilayah dengan wilayah lainnya.

Penguatan-penguatan masing-masing wilayah juga akan terus dilakukan sesuai dengan identitasnya.

Contohlah seperti kawasan arab. Dia mengaku, area itu akan dikembangkan menjadi kawasan “improvement area” atau menguatkan identitas wisata Religi Sunan Ampel sebagai “moslem friendly tourism”.

“Selain itu juga akan dilakukan pengelolaan dan konektivitas zona, sehingga terlihat hubungan yang harmoni antar budaya yang ada di kawasan tersebut,” pungkasnya. (dim/opi)

 

Editor : Nofilawati Anisa
#Kya Kya #zona pecinan #pemkot surabaya #kota lama surabaya #Hidayat Syah #disbudporapar kota surabaya