SURABAYA - Wali Kota Surabaya Eri Cahyadi kembali melakukan giat ngantor di kelurahan. Kali ini sasarannya adalah Kelurahan Siwalankerto.
Pada giat itu, Eri melakukan pengecekan ke sejumlah titik pembangunan paving dan saluran baru di wilayah kelurahan tersebut.
Dalam kesempatan itu, Eri menyampaikan terimakasih kepada RT/RW dan LPMK di sana. Sebab, dia selama ini mengaku sering mendapatkan laporan dari mereka lewat WhatsApp Group Forkom RT, RW, LPMK.
Laporan itu menurut dia sangat membantu pemerintah dalam menyelesaikan permasalahan yang ada di sana. Tapi, tidak semua titik tentunya bisa diselesaikan saat ini juga.
Dia mengakui dalam menyelesaikan permasalahan yang dihadapi masyarakat harus bertahap. "Sehingga ada titik-titik di 2024 bisa kita selesaikan, dan dilanjutkan di tahun 2025," ungkap Eri usai giatnya.
Eri menambahkan, masing-masing RT, RW dan LPMK harus aktif menyampaikan kebutuhan apa saja yang masih belum didapat oleh masing-masing kampungnya.
Mulai dari PJU, saluran, ataupun paving. Nantinya, kebutuhan-kebutuhan itu akan dicukupi lewat anggaran tahun 2025.
"Itu akan saya masukkan dakel (dana kelurahan) dan proyek di tahun 2025. Saya bilang jangan ada yang kancrit. Karena alhamdulillah ketika tahun 2023 dimasukkan, semua saya tandatangani, di tahun 2024 tidak ada yang terlewati," ujarnya.
Ketika usulan pembangunan dari warga ini bisa terealisasi di tahun 2025, lanjut dia, maka pada tahun berikutnya, pemerintah akan fokus pada pendidikan gratis di jenjang SMA/SMK sederajat.
Sebab, saat ini pemerintah memang fokus untuk merampungkan infrastruktur di perkampungan.
Eri menyampaikan, pemerintah sangat ingin mengangkat kesejahteraan peduduk Kota Surabaya.
Oleh karena itu, dia mengharapkan pada tahun 2025 atau 2026, program sekolah gratis untuk jenjang SMA/SMK di Surabaya bisa terealisasi. Sehingga pelajar yang bersekolah di jenjang tersebut tidak lagi ditarik biaya baik uang gedung atau yang lainnya.
"Untuk mewujudkan itu, tentu dibutuhkan kolaborasi antara pemerintah kota dan provinsi. Karena kalau tetap kami bayari, tapi masih ada tarikan uang gedung, kan kasihan. Orang miskin atau tidak punya tetap tidak bisa bayar," ujarnya. (dim/jay)
Editor : Jay Wijayanto