RADAR SURABAYA - Pendaftaran Pemilihan Wali Kota (Pilwali) Surabaya 2024 bakal mulai dibuka pada bulan Agustus mendatang.
Setelah sejumlah sosok menyatakan akan tampil untuk berkontestasi dalam pemilu lima tahunan itu, kini giliran banner dari Wakil Ketua DPRD Surabaya AH Thony yang mulai tampil di setiap sudut Kota Pahlawan.
Banner-banner kader partai Gerindra itu bertebaran di sejumlah titik dengan muatan tulisan pertanda dukungan dari sejumlah relawan.
Mulai dari banner bertuliskan dari relawan Surabaya Maju dengan muatan Surabaya Maju bersama AH Thony.
Kemudian ada lagi dari relawan yang mengatasnamakan Bolone Thony dengan muatan Wayahe Wong Tulus Tampil dan memajang foto AH Thony.
Semuanya mengarah pada dukungan agar wakil ketua DPRD itu maju berkontestasi.
Sementara itu, yang bersangkutan Wakil Ketua DPRD Surabaya AH Thony ketika dikonfirmasi mengaku tidak tahu menahu mengenai banner-banner yang bertebaran di setiap sudut Kota Pahlawan itu.
Kendati demikian, Thony mengaku berterima kasih atas kepercayaan dari sejumlah relawan itu yang memberikan support dan kepercayaannya pada dirinya.
"Nggak itu gak ada (pasang banner, red) koordinasi. Saya juga gak tahu. Saya terima kasih dibuatkan begitu. Mungkin mereka melihat ada sesuatu yang baik untuk saya ke arah itu," kata AH Thony.
Thony mengaku, dia tidak punya niatan untuk ikut berkontestasi dalam Pilwali Surabaya 2024.
Dia menyebut ada beberapa pertimbangan yang menyebabkan dia tidak ingin ikut berkontestasi dalam pilwali itu.
Salah satunya adalah perihal cost yang begitu besar untuk maju sebagai calon kepala daerah.
"Gak ada niatan ke situ. Ya rasional saja, sistem pemilu sekarang itu costnya besar. Dari pada dicetak sia-sia, itu mending dicetak untuk temen-temen yang siap untuk maju," ucap legislator dari fraksi Gerindra itu.
Selain permasalahan cost yang besar, Thony menyampaikan ada hal lain yang juga jadi pertimbangannya.
Hal itu berkaitan dengan sistem dari penyelenggara pemilu itu sendiri.
Menurut dia, ada rasa trust issue yang hingga saat ini masih dia rasakan pasca pemilu legislatif pada Februari lalu.
Dia mengaku, salah satu penyebab dia gugur dalam pileg itu karena ada campur tangan penyelenggara untuk mencurangi dia dalam kontestasi pileg kemarin.
Dia menyebut, pemilu saat ini bukan murni kompetisi. Tapi arahnya sudah transaksional siapa bisa memberi apa.
"Setelah suara terkumpul 100 persen dari seluruh tps di dapil saya, saya itu tahu saya bisa menang berapa saya dicurangi berapa itu saya tahu. Dan itu melibatkan penyelenggara," pungkasnya. (dim/opi)
Editor : Nofilawati Anisa