SURABAYA - LMI berkomitmen untuk menjadi pionir dalam mengembangkan dan memajukan bangsa lewat langkahnya. Sebagai bagian dari upaya ini, LMI telah berkolaborasi dengan Kemendikbud Ristek Dikti dalam program Magang dan Studi Independen Bersertifikat (MSIB).
Program ini memfasilitasi mahasiswa untuk mengikuti magang di berbagai mitra, termasuk LMI. LMI sebagai salah satu mitra, menawarkan kesempatan bagi mahasiswa untuk mendapatkan pengalaman praktis yang relevan dengan studi dan minatnya.
LMI sebagai lembaga yang inklusif, tidak memberikan diskriminasi kepada mahasiswa di seluruh Indonesia yang ingin menjadi bagian dalam langkah baik LMI melalui program MSIB.
Hal ini dibuktikan dengan proporsi keseimbangan peserta magang baik dari perguruan tinggi negeri (PTN) maupun perguruan tinggi swasta (PTS).
Rizki Wulan Agustin selaku Learning and Human Development LMI, menjelaskan bahwa kesempatan magang tidak hanya diberikan pada mahasiswa dari kampus Jawa Timur saja melainkan kampus non-Jawa Timur juga.
“Dari batch pertama yaitu batch 1 hingga saat ini batch 6, LMI sudah menerima kurang lebih 253 mahasiswa dari Jawa Timur dan 50 mahasiswa non-Jawa Timur,” ungkapnya.
Hal tersebut sekaligus membuktikan bahwa LMI memberikan peluang kepada seluruh mahasiswa dari berbagai daerah untuk mengembangkan dirinya di LMI.
Kesempatan belajar untuk semua kalangan juga diberikan oleh LMI, baik untuk mahasiswa sebagai mente maupun mentor yang mendampingi proses magang mahasiswa di LMI.
Hal ini dibuktikan dengan kolaborasi kegiatan yang melibatkan kedua belah pihak untuk mencapai kesuksesannya.
Sebagai contoh, Aulia Bethari Prasiwi, peserta MSIB Batch 6 LMI yang merupakan mahasiswa semester 6 prodi Ekonomi Islam Universitas Airlangga. Aulia menjelaskan bahwa ia telah mendapatkan banyak pelajaran dan pengalaman selama magang di LMI.
Salah satunya adalah bertanggung jawab dalam mengelola program Departemen Layanan baru "Kelas Inkubator Bisnis", sebagai sebuah program pelatihan intensif bagi pelaku usaha mikro, kecil dan menengah (UMKM) di seluruh Indonesia.
Program ini dirancang untuk memperkuat kapabilitas pelaku UMKM dalam aspek bisnis, manajemen, dan peningkatan omzet. Aulia bertugas untuk menindaklanjuti peserta UMKM yang mengikuti pelatihan intensif dan sekaligus sebagai asisten Fahmi Anggriawan, pemateri layanan baru tersebut.
Melalui tugas ini, Aulia dapat belajar banyak hal, termasuk memahami tantangan yang dihadapi oleh berbagai jenis bisnis dan bagaimana mengatasinya.
Dalam menjalankan kegiatan ini, Aulia tentunya berkolaborasi dengan mentor dan manajer di LMI. Sehingga dari kedua belah pihak dapat saling mengisi keperluan yang dibutuhkan demi kesuksesan acara.
“Banyak sekali manfaat yang bisa saya dapatkan selama meng-handle layanan baru ini salah satunya saya bisa berkenalan dengan para pelaku UMKM dari berbagai bidang atau jenis usaha. Selain itu, layanan ini juga sejalan dengan ilmu yang sudah saya dapatkan selama menjalani perkuliahan sebelumnya,” katanya, Rabu (12/6).
Ia mengaku bisa mengaplikasikan langsung ilmu yang sudah didapat seperti dalam bidang akuntansi, dimana ia belajar bahwa dalam menjalankan bisnis harus bisa merencanakan keuangan dengan baik.
“Sebagai pelaku usaha kita harus bisa membedakan keuangan pribadi dan keuangan usaha. Sedangkan pada bagian pemasaran, saya mendapatkan pengertian jika marketing itu bukan satu-satunya prioritas utama dalam menjalankan bisnis. Melainkan bagaimana pengusaha tersebut mampu mengoperasionalkan bisnisnya juga sangat perlu diperhatikan,” tuturnya.
Ini adalah contoh bagaimana LMI berkontribusi pada pencapaian Sustainable Development Goals poin ke-4 yaitu pendidikan yang berkualitas.
LMI akan berkomitmen untuk terus mendukung pencapaian SDGs ini melalui program dan inisiatifnya salah satunya melalui program MSIB yang sudah dan akan terus dilaksanakan. (*/jay)
Editor : Jay Wijayanto