Ekonomi Gresik Hobi & Lifestyle Jatim Mancanegara Nasional Olahraga Person of The Year Selebriti Sidoarjo Surabaya Tekno & Oto Wisata & Kuliner

Air Sungai di Surabaya Diduga Tercemar Bahan Organik, Begini Hasil Uji Laboratorium

Dimas Mahendra • Kamis, 13 Juni 2024 | 01:22 WIB
Petugas DLH Kota Surabaya turun lapangan untuk menyelidiki aliran air sungai di sekitar Tol Banyu Urip kawasan Simo Gunung Barat yang berwarna hijau tosca.
Petugas DLH Kota Surabaya turun lapangan untuk menyelidiki aliran air sungai di sekitar Tol Banyu Urip kawasan Simo Gunung Barat yang berwarna hijau tosca.

 SURABAYA - Sungai di sejumlah kawasan Surabaya terindikasi mengalami pencemaran. Mulai dari sungai di Simo Gunung yang berubah warna hingga sungai di Kalisari Mulyorejo yang dipenuhi busa sampai ke pesisir Sukolilo, dekat pintu air Kenjeran.

Kepala Laboratorium Ecoton Rafika Aprilianti mengatakan, dugaan pencemaran sungai ini memang beberapa kali ditemukan di Surabaya. Utamanya sungai yang dipenuhi buih-buih busa. Itu pernah terjadi di Tambak Wedi dan Kalidami pada 2020 sampai 2023.

Rafika mengungkapkan, setiap kali memasuki musim kemarau, sungai-sungai tersebut selalu menimbulkan busa. Pihaknya pernah audiensi dan pemerintah kota berencana membangun instalasi pengolahan air limbah (IPAL) komunal di permukiman sekitar bantaran sungai.

"Sudah dua tahun lalu kami mendorong pemkot untuk segera membangun IPAL komunal, tapi belum terealisasi,” kata Rafika di Surabaya, Rabu (12/6).

Karena itu, Ecoton mendorong pemerintah melakukan sejumlah upaya pencegahan. Salah satunya dengan pengerukan sedimentasi dan peningkatan pengawasan. “Tentunya terus mengedukasi masyarakat," ucapnya.

Di sisi lain, aktivis Ecoton Alaika Rahmatullah menambahkan, dari temuan sungai berbusa itu, ada tiga hal yang ditemukan terkait kandungan air yang berbusa itu. Hal itu diketahui ketika tim peneliti mengambil sampel air untuk diteliti di laboratorium.

Hasilnya, kKadar oksigen terlarut (DO) mengalami penurunan drastis hingga 0,5 ppm di air permukaan sungai. Sedangkan di outlet rumah pompa sebesar 0,4 ppm. Menurut dia, kondisi itu tidak sesuai dengan standar baku mutu air yang secara kategori masuk kelas 2.

“Air sungai kelas 2 minimal 4 ppm. Penurunan DO ini mengindikasikan pencemaran organik yang sangat signifikan,” ucapnya.

Temuan kedua adanya Fosfat (P) yang mencapai 3,5 ppm di air permukaan. Sementara di outlet 5,3 ppm. Sedangkan baku mutu air sungai kelas 2 itu 0,2 ppm.

Dia menjelaskan, adanya peningkatan kadar fosfat sering berkaitan dengan penggunaan deterjen atau limbah pertanian yang tidak terolah dengan baik. Kemudian temuan soal amoniak yang terdeteksi di permukaan air sebesar 21,2 ppm. Lalu di outlet rumah pompa sebesar 14 ppm.

“Baku mutu airnya itu 0,2 ppm. Amoniak cukup tinggi ini indikasinya ada pencemaran dari limbah domestik,” jelasnya.

Kondisi sungai yang seperti ini, menurut dia, selain menjadi masalah bagi lingkungan hidup, juga mengancam kesehatan masyarakat. Apalagi mereka aktif menggunakan air sungai untuk kebutuhan sehari-hari. Masyarakat bisa mengalami iritasi kulit hingga masalah serius seperti sistem pencernaan manusia.

“Hal ini bisa juga memicu eutrofikasi atau pertumbuhan alga dan tumbuhan air yang berlebihan. Kualitas air tentu jadi turun,” pungkasnya. (dim/rek)

Editor : Lambertus Hurek
#Sungai Surabaya Dipenuhi Busa #pencemaran sungai #ecoton #sungai berbusa buih surabaya