RADAR SURABAYA - Surabaya menjadi Kota Metropolitan dengan tipografi masyarakat yang majemuk.
Keberagaman budaya di Surabaya sangat kaya, hal ini tak lain karena di Surabaya ditinggali masyarakat dari berbagai macam suku dan ras.
Kemajemukan masyarakatnya ini membuat masyarakat lokal harus beradaptasi dengan sejumlah budaya baru dari warga luar Surabaya.
Utamanya dalam hal bahasa. Contoh pertukaran budaya dalam bentuk bahasa ini terjadi di Pasar Atom.
Pustakawan Universitas Ciputra Surabaya, Chrisyandi Tri Kartika mengungkapkan, dalam fenomena perdagangan di Pasar Atom itu, terdapat adaptasi bahasa yang hanya bisa ditemukan di sana.
Dalam proses perdagangan di sana, sedikitnya ada tiga bahasa yang biasa digunakan saat transaksi terjadi antara pembeli dan penjualnya.
"Sebenarnya bahasa pasar atoman itu lebih cenderung ke dialek arekan yang dipakai oleh orang Surabaya kala itu, hanya saja ada penambahan bunyi dari bahasa Indonesia dan Jawa. Seperti 'bok gitu pegang gelas e. isa jatuh," kata Chrisyandi.
Selain bahasa Jawa dan Indonesia, ada juga penggunaan bahasa Belanda seperti kata Sinyo.
Biasanya, kata ini ketika digunakan dalam sebuah kalimat untuk penyebutan anak oleh orang tua.
Contoh penggunaanya semisal 'Sinyo, pigio ke toko ndek pojok gang, belikno rokok e papa sak bungkus'.
"Sinyo itu malah serapan dari bahasa belanda. Jadi dalam satu kalimat bisa ada tiga bahasa gabung jadi satu. Dalam kalimat ini ada perubahan bunyi dan pemakaian bahasa lain: Sinyo Belanda, pigio berasal dari bahasa Indonesia pergi dengan tambahan akhiran dialek Jawa, ndek bahasa Indonesia di, sak bahasa Jawa," terangnya.
Penggunaan bahasa-bahasa ini menurut Chris biasanya digunakan oleh orang-orang Tionghoa dalam kesehariannya.
Dalam prosesnya, bahasa keseharian itu yang bisa diterima oleh kalangan masyarakat di Surabaya dari berbagai etnis.
"(Faktornya karena) banyaknya pedagang yang menggunakan bahasa ini untuk berkomunikasi dan bertransaksi. Khususnya pedagang Pasar Atom yang ada dipinggir kali,” jelasnya.
"Seperti contoh kata cengli, mbojay, cece, koko, ai. mbojay itu seperti nggak guna, nggak nggenah, percuma. Kalau cengli itu bagi sama rata keuntungan," pungkasnya. (dim/nur)
Editor : Nurista Purnamasari