RADAR SURABAYA - Pemerintah akan membangun jaringan Kereta Rel Listrik (KRL) lintas Surabaya-Sidoarjo.
Namun pembangun masih menunggu pencairan dana dari investor, sehingga waktu yang dibutuhkan untuk merealisasikan KRL tersebut masih cukup lama.
Pakar transportasi Machsus Fawzi mengaku sepakat dengan pembangunan jaringan KRL, namun jangan sampai hanya sebuah gagasan saja.
Karena memang perlu adanya tambahan moda transportasi untuk masyarakat Surabaya- Sidoarjo.
"Kalau sudah ada pendanaan segera dilakukan feasibility study dan detail engineering design (DED) baru dieksekusi. Jadi timelinenya harus jelas, ini kan belum jelas skema pendanaan," kata Machsus, Jumat (24/5).
Selama ini karakteristik pergerakan mobilitas masyarakat antara Surabaya dan Sidoarjo cukup besar.
Adanya angkutan publik berkapasitas besar menjadi solusi yang paling efektif bagi masyarakat.
Untuk mengatasi permasalahan kondisi jalan yang semakin hari semakin padat.
"Dengan tambahan KRL berbasis listrik semakin bagus, karena banyak pilihan masyarakat agar orang mulai meninggalkan kendaraan pribadi dalam melakukan mobilitasnya," tuturnya.
Kelebihan moda transportasi berbasis kereta rel yakni daya angkut yang lebih tinggi dibandingkan moda transportasi berbasis jalan raya yang terbatas.
"Kalau moda transportasi berbasis jalan raya maka tidak efektif, karena lebar badan jalan terbatas. KRL daya angkutnya bisa 10 kali lipat dari angkutan bus," terang Machsus.
Lebih lanjut ia menuturkan, KRL mempunyai fungsi yang sama dengan komuter namun yang berbeda adalah energi yang digunakan dan daya angkut.
"Intinya, saling melengkapi dan frekuensinya semakin banyak dengan alternatif menggunakan angkutan KRL," tuturnya.
Meski demikian hadirnya KRL Surabaya-Sidoarjo harusnya ditunjang dengan sarana prasana yang saling terintegrasi, mulai dari terminal, stasiun maupun halte, sehingga perlu diatur model pelayanan.
"Kalau tidak terintegrasi tidak efesien akhirnya biaya tinggi serapan subsidi besar dan tidak optimal. Semakin banyak variasi moda transportasi justru integrasi menjadi keniscayaan yang harus diprioritaskan," tegas dosen ITS tersebut.
Oleh karena itu dia berharap pemerintah pusat , provinsi dan pemkot maupun pemkab tidak berjalan sendiri dalam membangun moda transportasi yang efektif bagi masyarakat. (rmt/opi)
Editor : Nofilawati Anisa