Ekonomi Gresik Hobi & Lifestyle Jatim Mancanegara Nasional Olahraga Person of The Year Selebriti Sidoarjo Surabaya Tekno & Oto Wisata & Kuliner

Ini Dia Karya Seni Hasil Kolaborasi Seniman dan Warga Kampung Plampitan Surabaya, Mulai Batik Tulis hingga Instalasi

Rahmat Sudrajat • Sabtu, 25 Mei 2024 | 19:10 WIB
SENI URBAN: Sejumlah ibu-ibu di kawasan kampung Plampitan, Surabaya, membuat batik khas daerah tersebut di acara Airlangga Institute of Indian Ocean Crossroads Unair, Jumat (24/5). (ANDY S/RADAR SBY)
SENI URBAN: Sejumlah ibu-ibu di kawasan kampung Plampitan, Surabaya, membuat batik khas daerah tersebut di acara Airlangga Institute of Indian Ocean Crossroads Unair, Jumat (24/5). (ANDY S/RADAR SBY)

RADAR SURABAYA - Kawasan Peneleh, Surabaya mempunyai banyak kearifan lokal yang patut digali.

Salah satunya di Kampung Plampitan yang menjadi salah satu obyek bagi para seniman untuk menghasilkan karya kolaborasi yang dipamerkan di kampung tersebut.

Kolaborasi 11 seniman dan warga Kampung Plampitan itu digelar dalam sebuah acara yang mengangkat tema Ritus Liyan, Mundane Rites.

Karya seperti batik dikerjakan bersama antara seniman dan kelompok ibu di Plampitan. Mereka membuat batik tulis Peneleh.

Batik tersebut sangat unik dengan motif aliran Sungai Kalimas dengan Jembatan Peneleh.

Dalam motif tersebut ada juga tambahan motif sayap garuda dari gapura rumah HOS Tjokroaminoto yang juga ada di kawasan Peneleh.

"Karya-karya yang dipamerkan merespon kehidupan sehari-hari dan pengetahuan lokal warga Kampung Plampitan. Salah satunya yang terkenal adalah Batik Peneleh," kata Kurator Pameran, Bintang Putra.

Kolaborasi pameran dan karya itu diinisiasi oleh Airlangga Institute of Indian Ocean Crossroads (AIIOC).

Tak hanya batik, ada juga fotografi, videografi, seni performatif, sketsa, lukisan, hingga instalasi.

Karya-karya seniman ditempatkan di berbagai ruang yang tersebar di Kampung Plampitan.

Sebagian seniman mencoba mengaktivasi ruang publik dan ruang terbengkalai di kampung tersebut.

“Kami memanfaatkan dua tapak rumah yang terbengkalai sebagai ruangan pamer, kami berharap ruang-ruang ini bisa terus dimanfaatkan warga setelah pameran berakhir,” kata penata ruang pamer, Advan Beryl.

Menariknya, selama periode pameran, seniman dan penyelenggara menyiapkan berbagai program publik yang melibatkan warga Kampung Plampitan.

Antara lain lokakarya pembuatan plang, membatik, rujakan, makan penyetan lele, hingga mblakrak di sepanjang Kali Mas yang tepat melintas di depan Kampung Plampitan.

Seniman Lutfia Setyo yang berasal dari Semarang, karyanya mengangkat narasi tentang pagar yang menandai wajah rumah-rumah di Kampung Plampitan.

“Saya melihat pagar di Kampung Plampitan justru menjadi media penghubung antara warga saat bertegur sapa,” ujar Setyo.

Ia membuat sebuah instalasi dari potongan kain perca yang mewakili kelenturan batas sosial bagi warga Kampung Plampitan.

Sementara itu Direktur AIIOC, Lina Puryanti mengatakan pameran ini merupakan bagian dari ilmu pengetahuan yang harus saling melengkapi satu sama lain.

Perkembangan pengetahuan tidak hanya di dalam kampus namun juga hadir di tengah masyarakat yang ada di perkampungan.

"Perkampungan sesuatu yang luar biasa, patut dibanggakan. Kita bisa belajar dengan kearifan lokal yang ada di kampung sebagai laboratorium ilmu pengetahuan," tutur Lina.

Acara ini juga menjadi rangkaian kegiatan dari International Convention of Asian Scholars (ICAS) 13 yang akan diselenggarakan di Surabaya pada 28 Juli-1 Agustus mendatang. (rmt/opi)

 

Editor : Nofilawati Anisa
#Kampung Plampitan #peneleh #Batik #seniman #kolaborasi #HOS Tjokroaminoto #Kali Mas #Airlangga Institute of Indian Ocean Crossroads #Unair #International Convention of Asian Scholars