SURABAYA-Pada penyelenggaraan ibadah haji tahun ini, Embarkasi Surabaya menggunakan pesawat terbang berkapasitas 377 seat dengan load factor 371 seat dalam satu kloter setiap kali penerbangan.
Pesawat terbang yang digunakan untuk mengangkut calon jemaah haji (CJH) ini berbeda dengan tahun sebelumnya.
Pesawat maskapai Saudi Arabian Airlines yang digunakan tahun ini menggunakan jenis Airbus 330-300. Sedangkan pada tahun lalu menggunakan Boeing 747-400 dengan kapasitas 450 penumpang.
Manager Operasional Saudi Arabia Airlines, Yusuf Rahmani mengatakan, pesawat yang digunakan CJH tahun ini merupakan jenis pesawat baru dan dari segi keunggulan lebih hemat bahan bakar. Selain itu tingkat kenyamanan juga lebih baik dari sebelumnya.
"Tahun ini Embarkasi Surabaya menggunakan pesawat yang baru dari Saudi Arabia Airlines jenis Airbus yang lebih ramping dan lebih nyaman dari pesawat sebelumnya," tutur Yusuf, Sabtu (18/5).
Meskipun hanya 377 seat, namun pesawat tersebut bisa mengakut bagasi sama dengan pesawat jenis Boeing yang digunakan tahun lalu, yakni 32 kilogram untuk koper besar dan 7 kilogram untuk koper kecil.
"Pesawat ini isinya lebih sedikit, lebih kecil dan ramping dibandingkan pesawat saat tahun lalu. Tapi dari segi bagasi, sama dengan tahun lalu yakni 39 kilogram. Jadi beban disesuaikan dengan kapasitas yang ada," jelasnya.
Untuk kru cabin di setiap penerbangan selama operasional haji membawa 18 orang yang terdiri dari 3 orang di dalam kokpit dan 15 kru cabin.
Menariknya dari 18 kru, minimal 3 kru cabin berasal dari orang Indonesia.
Hal itu permintaan dari Kementerian Agama. Sedangkan sisanya dari Arab Saudi. Selain itu setiap penerbangan kru akan berganti.
"Di dalam kru cabin ada orang Indonesia yang tujuannya bisa menjembatani komunikasi antara kru dari Arab Saudi dengan jemaah haji Indonesia. '
Misalnya terkait penyediaan menu makanan selama penerbangan supaya tidak miss komunikasi," jelas Yusuf.
Baca Juga: Enam Remaja Diamankan saat Hendak Tawuran di Jojoran Surabaya, Polisi Sita Tiga Sajam
Setiap hari, ada 5 unit pesawat yang akan terbang pulang-pergi (PP) dari Bandara Internasional Juanda menuju Bandara Internasional Pangeran Mohammad bin Abdul Aziz, Madinah, ataupun nantinya di gelombang kedua di King Abdul Aziz, Jeddah dan sebaliknya selama kurang lebih 10 jam waktu tempuh perjalanan.
"Rata-rata dalam sehari ada 5 kloter yang berangkat. Jadi kami standby-kan 5 unit pesawat dan setiap hari pesawat akan tiktok (PP, Red), " ungkapnya.
Untuk mengatasi adanya kendala pada pesawat yang bekerja nonstop mengangkut jemaah haji setiap harinya, Yusuf memastikan bahwa pesawat tersebut selalu mendapatkan maintenance setiap landing.
"Jadi begitu sampai di Juanda maupun di Arab Saudi, pesawat akan ganti oli, maintenance, dan pengisian bahan bakar, pembersihan. Itu dilakukan ketika ground time 2 jam setelah mendarat. Sampai jemaah datang pesawat langsung lepas landas. Begitu seterusnya sampai 106 kloter," tuturnya.
Tahun 2023 Embarkasi Surabaya memberangkatkan 88 kloter dengan total jemaah mencapai 38.359 orang, sedangkan di tahun ini sebanyak 106 kloter dengan total jemaah 39.322 orang.
Sementara itu selama dalam penerbangan dari Surabaya menuju ke Madinah maupun ke Jeddah, Yusuf menuturkan CJH mendapatkan tiga kali hidangan. 2 jam setelah pesawat take off atau lepas landas mendapatkan menu makanan ringan.
Kemudian setelah terbang kurang lebih 4 jam akan mendapatkan menu makanan berat. Dan 1 jam sebelum mendarat atau landing akan diberikan snack dan minuman seperti air mineral, jus, teh, maupun kopi yang disesuaikan oleh permintaan CJH.
"Untuk menu makanan memang tidak boleh pedas dan asam sebagai antisipasi gangguan kesehatan pada jemaah. Kami juga ada 4 menu pilihan seperti daging maupun ayam. Juga ada bubur, bagi jemaah yang dengan risiko tinggi (risti) ataupun lansia," pungkasnya. (rmt/jay)
Editor : Jay Wijayanto