SURABAYA - Indeks ultra violet (UV) di Surabaya kota-kota lain di tanah air pada awal musim kemarau ini sangat tinggi. Mulai skala 8 hingga 11 - risiko sangat tinggi hingga ekstrem.
Karena itu, paparan sinar matahari langsung antara pukul 10.00 hingga pukul 16.00 sebaiknya dihindari karena berdampak pada kulit, mata, dan bagian tubuh yang lain.
BMKG mencatat indeks UV di Surabaya pada Minggu (12 Mei) mencapai angka 11 atau ekstrem. Senin dan Selasa di skala 10 atau sangat tinggi.
BMKG menyebut ketika indeks UV di skala 8-10 artinya very high risk. Risiko sangat tinggi bagi orang yang terpapar matahari tanpa pelindung. Diperlukan tindakan pencegahan ekstra karena kulit dan mata dapat rusak rusak dan terbakar dengan cepat," tulis BMKG.
Kurangi waktu di bawah paparan matahari antara pukul 10 pagi hingga pukul 4 sore. Tetap di tempat teduh pada saat matahari terik siang hari.
Kenakan pakaian pelindung matahari, topi lebar, dan kacamata hitam yang menghalangi sinar UV pada saat berada di luar ruangan.
Oleskan cairan pelembab tabir surya SPF 30+ setiap dua jam bahkan pada hari berawan, setelah berenang atau berkeringat.
Indeks UV yang aman di angka 0 sampai 5. Kalau sudah di atas 6 dan 7 sudah masuk high risk.
Indonesia yang berada di garis katulistiwa dikarunia paparan sinar matahari yang maksimal. Manfaatnya banyak. Namun, di sisi lain paparan sinar UV yang intensif juga berpotensi menyebabkan kulit terbakar hingga kanker kulit.
Flek-flek hitam pada kulit yang sering terlihat pada orang bule yang senang berjemur di bawah sinar matahari juga akibat paparan sinar UV berlebihan. Maka penggunaan sunblock sangat dianjurkan khususnya di musim panas ini. (rek)
Editor : Lambertus Hurek