SURABAYA - Nama lengkapnya Advonso Dollyra Chavid, tapi lebih dikenal dengan panggilan Mami Dolly. Wanita ini adalah seorang GM (Germo) yang dikenal "paling sakti" di Kota Surabaya.
Saking saktinya, menurut Dukut Imam Widodo, penulis buku Soerabaia Tempo Doeloe, Mami Dolly bisa dengan leluasa menjalankan bisnis prostitusinya di Surabaya.
Betapa tidak?
Wali Kota Surabaya (saat itu) Raden Moestadjab Soemowidigdo dan Raden Soeprapto selaku Ketua DPRDS Surabaya pada 29 Oktober 1953 telah mengeluarkan perda tentang "Penutupan Rumah-rumah Pelacuran Dalam Kota Besar Surabaya"
"Namun, Mami Dolly sama sekali tidak menggubris peraturan itu. Gang Dolly sebagai pusat pelacuran tetap saja buka. Bahkan, lama setelah ia meninggal pun Gang Dolly tetap saja buka! Apa Mami Dolly ndak sekti?" papar Dukut.
Namun, Gang Dolly yang selama bertahun-tahun dikenal sakti akhirnya mampu ditaklukkan oleh seorang perempuan yang sangat berani.
Sekitar 60 tahun kemudian pada 19 Juni 2014) Wali Kota Surabaya Tri Rismaharini berhasil menutup lokalisasi yang disebut-sebut terbesar di Asia Tenggara itu.
"Gang Dolly benar-benar ditutup!" kata Dukut.
Meski ada perlawanan dari puluhan GM bersama ratusan pekerja seks, Bu Risma tetap konsisten dengan keputusannya.
Tak hanya Gang Dolly dan Jarak, semua lokalisasi lain di Surabaya juga ditutup. Mulai dari Kremil, Bangunsari, Sememi, Klakahrejo pun dihabisi oleh Bu Risma.
Setelah Gang Dolly dan lokalisasi-lokalisasi lain ditutup, apakah bisnis esek-esek hilang di Surabaya?
Nanti dulu.
Di era digital dan media sosial ini bisnis lawas itu malah beralih ke online alias daring. Sejumlah aplikasi kencan dimanfaatkan para GM dan PSK untuk mencari pelanggan.
Tempat eksekusinya di berbagai hotel, losmen, dan penginapan yang makin tersebar di seluruh kota. Bisnis yang satu ini memang gak ada matinya. (rek)
Editor : Lambertus Hurek