Ekonomi Gresik Hobi & Lifestyle Jatim Mancanegara Nasional Olahraga Person of The Year Selebriti Sidoarjo Surabaya Tekno & Oto Wisata & Kuliner

Koreografer Sri Mulyani dan Putrinya Tampilkan Karya Spesial Meriahkan Hari Tari Sedunia di Alun-Alun Surabaya, Begini Filosofinya

Lambertus Hurek • Sabtu, 27 April 2024 | 22:09 WIB
Koreografer Sri Mulyani bersama tujuh penari dari Pusat Olah Seni Budaya Mulyo Joyo Enterprise, Surabaya (IST).
Koreografer Sri Mulyani bersama tujuh penari dari Pusat Olah Seni Budaya Mulyo Joyo Enterprise, Surabaya (IST).

RADAR SURABAYA - Hari Tari Sedunia atau International Dance Day dirayakan setiap 29 April. Dinas Kebudayaan, Pemuda, Olahraga, dan Pariwisata (Disbudporapar) Kota Surabaya ikut memeriahkannya dengan menggelar Dance Exhibition di halaman tengah Alun-Alun Surabaya, Sabtu (27/4).

Sejumlah sanggar tari diundang untuk memeriahkan event tahunan ini. Salah satunya Pusat Olah Seni Budaya Mulyo Joyo Enterprise. Sanggar tari pimpinan Sri Mulyani itu mempersembahkan dua karya, yaknu Sumendhe dan Mawas Salira.

Tari Sumendhe karya Inggar Belzky Tosabila dengan penata musik Pardiman. Inggar ini tak lain putri Sri Mulyani yang sudah lama mengikuti jejak sang ibunda di dunia seni tari.

"Sumendhe diangkat dari bahasa Jawa yang berarti pasrah. Pasrah menjadi pilihan terakhir, saat sudah lelah dengan keadaan. Namun bukan berarti pasrah itu adalah menyerah," kata Inggar.

Inggar Belzky Tosabila sendiri tampil membawakan tarian ini bersama enam penari dari Pusat Olah Seni Budaya Mulyo Enterprise. Yakni Melza Nur Ramadhania, Nita Angelina, Naila Hilda, Firyal Arini, Wqaila Zannuba, dan Siti Aira. Pemusik dan komposernya Pardiman Djoyonegoro.

Dalam kepasrahan, menurut Inggar, kita wajib tetap berusaha dan menyerahkan semua pada Sang Pencipta. Biarkan semua energi negatif itu hilang. Buka mata hati jiwa, biarkan energi baru datang, merasuk memberi kekuatan.

"Awal yang baru mengubah kegelapan menjadi terang," kata mahasiswa Sendratasik Universitas Negeri Surabaya (Unesa) itu.

Satu karya tari lagi ciptaan Sri Mulyani sendiri berjudul Mawas Salira (Introspeksi Diri). Tarian ini mengandung permenungan yang dalam. Sri Mulyani tampil sendiri membawakan tarian tentang introspeksi diri itu.

"Melangkah, meninggalkan jejak yang menghitam. Ayunannya merendahkan sesama, menyikut, menyakiti, membunuh, demi kepuasan diri. Apa pun bunyi mulut menjadi sabda kebenaran yang menutup kebenaran sejati.

Langkah membentuk pribadi angkuh, jumawa, dan angkara. Mata menjadi tertutup. Namun desir angin dan suara alam sesungguhnya adalah manifestasi suara keilahian," jelas koreografer dan penari yang sudah melanglang ke berbagai negara itu.

Dimawan Krisnawa Adji, pemain cello asal Yogyakarta, menjadi komposer musik untuk mengiringi tarian karya terbaru Sri Mulyani tersebut.

"Tahun 2004 kami kolaborasi bersama Grup Musik Panji Kelana dan Khahanan, Jakarta, pentas keliling di 15 kota di Belanda selama tiga bulan," kata Sri Mulyani. (rek)

Editor : Lambertus Hurek