RADAR SURABAYA – Belakangan ini keresahan warga Kota Surabaya meningkat seiring maraknya kejadian tawuran antar geng remaja.
Bukan sekadar kenakalan remaja dan adu gagah-gagahan antar kelompok saja, namun perilaku geng remaja di Kota Pahlawan sudah masuk ranah kekerasan dan kriminalitas. Mereka bahkan memakai senjata tajam dalam aksi tawuran.
Bahkan beberapa kasus menelan korban luka dan korban jiwa. Yang terbaru, tawuran antar geng remaja terjadi di kawasan Wonokusumo yang menyebabkan seorang remaja meninggal dunia dan dua remaja mengalami luka bacok.
Tak hanya masyarakat umum yang resah dan waswas saat melintas di jalan, tapi para orang tua yang memiliki anak remaja turut resah.
Para orang tua resah karena khawatir anaknya bakal terlibat geng remaja dan aksi negatif yang mereka lakukan.
Selain itu, para orang tua juga resah anaknya bakal menjadi korban. Entah terlibat dalam geng tersebut dan menjadi korban, atau hanya sekadar lewat dan tak ikut campur namun jadi korban.
Menurut Pakar Psikologi Sosial, Ananta Yudiarso, fenomena maraknya kenakalan remaja dan geng remaja ini dipicu oleh kebutuhan identitas, baik pribadi maupun antargeng.
Selain itu, dari sisi pribadi remaja kecenderungan mempunyai perilaku agresi.
Ananta menuturkan, perilaku tawuran antar geng remaja dipengaruhi oleh kebutuhan identitas sehingga remaja melakukan tawuran untuk menunjukkan identitas antar geng agar dapat disegani dan ditakuti.
"Bahkan mereka kecenderungan mempunyai pemikiran 'saya ada yang lain tidak boleh ada', itu yang menyebabkan dan mendorong adanya tawuran untuk mencari identitas dan eksistensi," kata Ananta kepada Radar Surabaya, Jumat (26/4).
Kemudian terkait pertumbuhan biologis remaja, anak remaja kecenderungan memiliki perilaku agresi.
Hal itu terkait dengan pertumbuhan hormonal neotransmiter di dalam otak remaja.
"Sehingga remaja kecenderungan akan banyak melakukan agresi atau istilahnya masa topan dan badai," imbuhnya.
Kemudian faktor eksternal juga mempengaruhi mereka untuk membentuk geng dan melakukan tawuran.
Remaja butuh pengakuan atau identitas. Perilaku eksternal ini biasanya dipicu oleh sosial kultural.
Mereka akan mempertahankan identitas kelompoknya agar diakui sebagai yang terkuat.
Untuk mengatasi persoalan ini, menurut Dosen Psikologi Universitas Surabaya (Ubaya) ini, yakni dengan cara mewadahi remaja untuk mengembangkan identitas dirinya.
Kecenderungan terjadinya tawuran yaitu kurangnya public space yang bisa menyalurkan untuk membentuk identitas diri.
"Peran pemerintah kota atau kabupaten dalam menyediakan public space bisa lebih merata. Terutama di pinggiran kita yang kurang ada hiburan," jelasnya.
Selain itu, untuk membentuk identitas dirinya perlu diberi kesempatan magang atau bekerja bekerja paruh waktu.
Seperti di luar negeri sudah dilakukan cara ini, sehingga remaja paham bagaimana aturan sosial langsung di masyarakat dan menumbuhkan jiwa kemandirian dan paham aturan adat dalam masyarakat.
"Pada school break atau liburan bisa diberi tugas untuk magang kerja, ini yang belum ada di Indonesia dan di Surabaya," tutur mantan Wakil Dekan 1 Fakultas Psikologi Ubaya ini.
Mulai remaja awal atau kelas 1 SMP sudah mulai diarahkan magang kerja terbatas. Ini juga bagian dari early civic education.
"Misal magang 1-3 jam kerja di kantor, industri, perdagangan, pasar, dan sebagainya. Sekilas tampak sederhana tapi dari interaksi langsung dengan sosial banyak tata nilai masyarakat yang dipelajari sejak dini oleh remaja kita. Sebenarnya di sekolah-sekolah tertentu sudah diajarkan," imbuhnya.
Ia berharap pemerintah kota Surabaya melalui Dinas Pendidikan, sudah mulai memikirkan program magang kerja untuk anak sekolah.
Sementara itu, keinginan remaja untuk masuk dalam kelompok atau geng di perkotaan cenderung mengalami disfungsi keluarga.
Fungsi orang tua, ayah dan ibu di rumah hanya sebagai pemenuhan kebutuhan, mencari nafkah untuk keluarga, namun tidak menjadi role mode untuk mengendalikan anaknya.
Oleh karena itu, Ananta memberikan saran agar orang tua memahami anak ketika menginjak remaja yang tengah berkembang mencari identitas.
Remaja memang tak ingin dihalangi, jika dihalangi malah muncul kenakalan remaja, dan itu pasti terjadi.
"Yang namanya remaja masih akan muncul kenakalan begitu, tapi perlu dilihat masih dalam batas norma sosial atau tidak?. Makanya fungsi keluarga harus diperkuat lagi,” paparnya.
“Ayah anak dan ibu, bukan lagi sebagai orang yang tinggal dalam satu rumah kemudian ayah dan ibu mencari nafkah kemudian diberikan ke anak untuk kebutuhan hidup. Tapi benar-benar harus dididik, diberikan ketegasan dalam aturan di rumah," pungkasnya.
Untuk diketahui, dalam beberapa waktu belakangan ini terjadi beberapa aksi tawuran antargeng remaja di Surabaya.
Selain tawuran antar geng di kawasan Wonokusumo yang menewaskan seorang remaja dan dua remaja mengalami luka bacok, tawuran antar geng juga sempat terjadi di kawasan lain.
Seperti pada Februari lalu, penyerangan terhadap warga hingga mengalami luka akibat senjata tajam juga dilakukan oleh geng remaja di kawasan Balas Klumprik.
Tak hanya itu, Desember 2023 lalu, tawuran antar pelajar di Sidotopo Wetan juga memakan korban siswa SMP berusia 15 tahun yang harus meregang nyawa.
Aksi tawuran dengan membawa senjata tajam juga terjadi di kawasan Kedung Coweksekitar bulan Oktober tahun lalu. Meski tak memakan korban jiwa, dari aksi ini puluhan remaja diamankan.
Tewasnya remaja karena tawuran juga terjadi di akhir tahun 2022 lalu di kawasan Jembatan Suroboyo.
Selain kasus-kasus tersebut juga masih banyak aksi tawuran dan kekerasan antar geng remaja yang terjadi di berbagai wilayah di Surabaya. (rmt/nur)
Editor : Nurista Purnamasari