RADAR SURABAYA - Brigjen Mallaby pada 30 Oktober 1945 tewas terbunuh di depan Gedung Internatio, Surabaya. Kematian yang misterius itu telah menimbulkan kemarahan pihak Sekutu.
"Bisa jadi Mallaby tewas lantaran digranat oleh tentara Sekutu yang bertahan di Gedung Internatio. Namun tidak tertutup kemungkinan ia terbunuh oleh para pemuda," kata Dukut Imam Widodo, penulis buku Soerabaia Tempo Doeloe.
Sebagai pihak yang telah memenangkan Perang Pasific melawan Jepang, tentu saja pihak Sekutu, yang diwakili oleh tentara Inggris, tidak ingin kehilangan muka. Pagi itu pesawat terbang Inggris melayang-layang di atas Kota Surabaya.
Dari pesawat itu disebarkan ribuan pamflet berisi ultimatum.
"Ultimatum Mayjen E.C. Mansergh, Panglima Tentara Darat Sekutu itu ditanggapi dengan kemarahan luar biasa dari Arek-arek Suroboyo," kata Dukut.
Namun mereka tetap berpikir realistis. Mereka yakin bahwa Sekutu tidak main-main denga ultimatum itu. Pada hari itu banyak rakyat Surabaya, terutama para waniya dan anak-anak, mengungsi menyelamatkan diri ke Mojokerto dan Sidoarjo.
Namun, tak sedilit pula rakyat Surabaya yang memilih untuk tetap bertahan di kota ini, terutama yang muda-muda. Apalagi mereka memiliki persenjataan hasil rampasan dari tentara Jepang.
Mereka juga memiliki pengalaman bertempur melawan Sekutu, sejak Brigjen Mallaby dan anak buahnya mendarat di Surabaya pada 25 Oktober 1945. Bahkan ketika itu mereka hampir saja mengalahkan tentara Sekutu.
"Untung saja Bung Karno berhasil mendamaikan Arek-Arek Suroboyo dan tentara Sekutu," papar Dukut.
Alasan Arek-Arek Suroboyo yang tidak mau mengungsi, hanya satu. Bahwa mereka akan tetap mempertahankan kota ini, apa pun yang akan terjadi.
Apalagi melalui Radio Pemberontakannya, Bung Tomo "ngompori" bahwa:
"Selama banteng-banteng Indonesia masih memiliki darah berwarna merah... maka tak sudi kalau kami harus mematuhi perintah tentara Sekutu!"
Pokoke gaspol, lawan terus tentara Sekutu sampai titik darah yang penghabisan. (rek)
Editor : Lambertus Hurek