RADAR SURABAYA - Rabu (17/4) sore, ratusan warga memenuhi jalanan di kawasan Sukolilo Baru.
Bukan untuk mengantre beras atau sembako murah, orang-orang tersebut menunggu untuk mendapatkan ketupat dan makanan lainnya yang disajikan secara gratis dalam perayaan Lebaran Ketupat di kawasan tersebut.
Tak sampai setengah jam, makanan ketupat dan berbagai makanan dan minuman lainnya ludes diserbu warga yang sudah mengantre.
Bahkan mereka sudah menyiapkan tempeh atau baki untuk membawa makanan gratis itu dari 50 stan yang berjejer sepanjang 300 meter.
Lebaran ketupat merupakan tradisi turun temurun yang digelar oleh warga Sukolilo Baru setiap tahunnya. Tepatnya seminggu setelah Idul Fitri.
Hidangan yang disajikan mulai sate daging ketupat, urap-urap ketupat, bakso ketupat, sop ketupat hingga mie ketupat.
Tak hanya itu, ada juga aneka minuman. Warga pun sangat antusias untuk menikmati lebaran ketupat.
Ketua RW 02 Sukolilo Baru, Hanafi menjelaskan, tradisi ketupat di wilayahnya merupakan kesadaran warga sebagai ungkapan rasa bahagia dan syukur karena selama sebulan menjalani ibadah Ramadan, kemudian menjalani Idul Fitri dan puasa syawal dan ditutup dengan lebaran ketupat.
"Dulu warga menggelar lebaran ketupat ini di kampungnya masing-masing, sekarang mereka minta untuk diadakan secara bersama di jalanan agar semua orang bisa saling menikmati dan berbagi," terang Hanafi.
Kebahagiaan terpancar dari Dila, warga Sukolilo Baru Gang 5 yang mendapatkan berbagai menu. Mulai bakso ketupat, lodeh ketupat, hingga es garbis.
Bahkan ia sudah menyiapkan tempat untuk mengambil makanan gratis ini.
"Ya setiap tahun ada. Waktu kecil saya dulu juga sempat berebut seperti ini," ujar Dila.
Makanan tersebut langsung dibawa oleh Dila ke rumah untuk dinikmati. Bahkan Dila terlihat kembali lagi untuk mengantre sembari membawa tempeh untuk menampung berbagai makanan ketupat.
Ia mengaku hikmah yang didapat dari makan gratis ini adalah kebersamaan warga. Apalagi ia sudah sejak kecil lahir di Sukolilo Baru Gang 5.
"Hikmahnya bisa bersama sambil bersilahturahmi, guyub setelah Idul Fitri," tutur ibu satu anak itu.
Salah satu stan yang ramai adalah milik Asmiyah yang menyediakan bubur Madura dan soto daging ketupat.
Bahkan di stan tersebut ia dan dua adiknya tampak kuwalahan meladeni antrean warga yang ingin mencicipi masakan ala ketupat buatannya itu.
"Setiap habis lebaran memang ada tradisi makan gratis ketupat. Jadi ini tidak bisa absen karena salah satu bentuk bertetangga dan bersaudara untuk berbagi," ujar Asmiyah.
Ashmiyah mengaku mengeluarkan uang lebih dari Rp 2 juta untuk membuat dua menu tersebut.
Ia pun tak mikir rugi, yang terpenting baginya adalah bisa merayakan lebaran ketupat ini bersama.
"Ini juga sebagai contoh kepada penerus agar terus menghidupkan tradisi di Sukolilo Baru. Jangan sampai terputus ini tradisi nenek moyang yang harus dilestarikan," tegas perempuan 55 tahun itu. (rmt/nur)
Editor : Nurista Purnamasari