SURABAYA - Seusai libur panjang Lebaran, fenomena urbanisasi biasa terjadi di kota besar. Pemerintah Kota (Pemkot) Surabaya sudah menyiapkan sejumlah langkah antisipasi masuknya pendatang ke Kota Pahlawan.
Kepala Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil (Dispendukcapil) Surabaya Eddy Christijanto mengatakan, ada sejumlah langkah yang sudah disiapkan dinas terkait hal tersebut.
Pertama, bekerja sama dengan para camat dan lurah untuk melakukan koordinasi dengan RT dan RW memantau warga pendatang.
Pelibatan ketua RT dan RW, menurut Eddy, sangatlah penting. Sebab, para ketua RT dan RW yang paling tahu warga di lingkungannya pendatang atau bukan.
"Pengurus RT dan RW memantau warga pendatang dan melaporkan ke lurah agar dilakukan entry data di aplikasi Puntadewa penduduk non-Surabaya," kata Eddy, Minggu (14/4).
Selain itu, Dispendukcapil Surabaya juga akan bekerja sama dengan Satpol PP, pemerintah kecamatan dan kelurahan untuk melakukan operasi ketentraman dan ketertiban umum (trantibum).
Hal ini untuk mengantisipasi kedatangan gelandangan atau pengemis baru usai libur panjang lebaran saat ini. "Iya, operasi ini bagi gelandangan dan pengemis," katanya.
Fenomena kedatangan para gepeng saat arus balik Lebaran memang tejadi setiap tahun.
Langkah berikutnya, menurut Eddy, dispendukcapil akan melakukan penelitian lapangan secara faktual berkaitan dengan pengajuan pindah baru ke Kota Surabaya.
Penelitian ini guna memastikan warga yang mengajukan pindah ke Surabaya benar ada di alamat tersebut, atau hanya sebagai syarat administrasi.
Eddy menjelaskan, biasanya selain karena momen pasca libur Lebaran, pada bulan April seperti saat ini, pengajuan untuk pindah ke Surabaya sangat tinggi karena bebarengan dengan masuknya masa pendaftaran PPDB.
"Kalau tidak sesuai dan tidak ada di tempat (saat penilitian faktual di lapangan berlangsung), maka tidak disetujui proses pindahnya," pungkasnya. (dim/rek)
Editor : Jay Wijayanto