RADAR SURABAYA - Di Jalan Irian Barat, Surabaya terdapat rumah susun (rusun) yang ada sejak tahun 1950-an.
Hingga kini bangunan empat lantai itu masih berdiri kokoh, sayang kurang terawat.
Dinding bangunan dibiarkan kusam, tanaman liar menjalar begitu saja dan lebatnya pohon menjadikan bangunan itu angker.
Ditambah udara yang lembab, konon disukai banyak makhluk halus.
Dan ternyata makhluk halus yang bersemayam di tempat itu bukan persepsi belaka, namun nyata.
Salah satu bekas penghuni rusun tersebut menuturkan pernah mendengar suara dan melihat yang aneh-aneh di kamar yang ia tempati.
Seperti lemari membuka sendiri, hingga suara derap langkah di lantai yang kerap ia dengar.
Kejadian itu membuatnya tak betah. Hanya dua hari ia menempati bangunan tersebut.
Selebihnya memutuskan untuk mengkontrak di tempat lain.
Kebetulan bekas penghuni rusun itu, membuka kios tanaman dan bunga tepat di seberang rusun.
Ia bernama Yuli, perempuan paruh baya itu bercerita panjang lebar mengenai tempat tersebut.
Bahkan ia sempat mengajak untuk masuk, untuk melihat kondisi ruang dalam, namun sayang bangunan itu terkunci.
Akhirnya, Yuli menceritakan di depan rumah tersebut, bahwa ia sempat diminta menempati kembali kamar yang telah lama ia tinggali.
Ia pun menolak karena tidak kerasan dengan aura dalam rusun.
"Ya dulu saya sempat ditawari untuk tinggal di situ. Akhirnya saya mau. Tapi cuma dua hari saja. Gak betah dengan kondisi sepi. Apalagi kalau malam. Sering mendengar suara yang gak biasa seperti orang berjalan di dalam kamar saya," kata Yuli belum lama ini.
Yuli menyebut penghuni ketika itu hanya lima orang.
Ia mendapatkan kamar yang cukup luas di dalamnya ada lemari kuno dari bahan kayu dan juga yang besi, serta tempat tidur yang besar.
Namun kembali saat ia tidur, di bawah tempat tidurnya kerap terdengar suara benda dipukul.
"Gak hanya malam saja sih, kadang pas sore menjelang maghrib juga terdengar," tuturnya.
Yuli menempati bangunan di lantai 3, ketika itu ia tinggal bersama anaknya.
Yuli juga sempat melihat seorang perempuan berbadan besar yang mengenakan kain putih, rambutnya pun terurai.
"Kalau di depan (halaman depan, Red) saya beberapa kali melihat perempuan besar tapi dia gak bersuara cuma nampak saja. Waktu malam hari," terang Yuli.
Tak hanya itu, kran kamar mandi kerap menyala sendiri.
Selama dua hari ia tinggal tiga kali merasakan kran kamar mandi menyala sendiri.
"Terakhir ya saya biarkan saja, sampai banjir juga. Akhirnya baru saya matikan krannya," ujarnya.
Atas dasar gangguan makhluk halus, Yuli dan anaknya mengemasi barang dan memutuskan untuk hijrah ke tempat yang lebih aman dari serangan makhluk halus yang bertubi-tubi itu.
Penghuni di flat itu, dikatakan Yuli, rata-rata merupakan pekerja.
Bahkan ada salah satu orang yang paling lama tinggal di situ.
Rusun itu ternyata mempunyai dua bagian.
Satu yang menghadap Jalan Irian Barat dan satunya dibelakang bangunan itu.
"Ada sih yang paling tua di situ, sudah sepuh. Tinggal bersama anaknya. Tapi kadang anaknya pergi kerja, tapi kalau malam biasanya datang," ungkapnya.
"Gak tahu juga yang pekerja itu, betah juga tinggal di situ. Mereka juga rumahnya di luar Surabaya. Kalau Sabtu gitu biasanya pulang," ujarnya.
Rusun itu dikelola oleh salah satu perusahaan swasta dulunya diperuntukkan kepada para pekerja yang dari luar kota.
Tepatnya di tahun 1950-1960 masih ada perusahaan sisa peninggalan Belanda yang membutuhkan pekerja khusus.
Perusahaan itu akhirnya membuat rusun bagi para pekerjanya.
Konon perusahaan yang memiliki rusun itu adalah PT Dok yang bergerak dalam bidang pembuatan kapal.
Perusahaan itu dulu masih dikelola oleh Belanda dan menjadi perusahaan swasta.
Sebelum akhirnya dinasionalisasi, dijadikan BUMN.
Keberadaan rusun di Jalan Irian Barat bukanlah kali pertama dibangun di tahun 1950-an.
Ada lagi bangunan rusun di tahun 50an di sekitaran Taman Apsari.
Namun bangunan itu sudah tidak ada. (rmt/opi)
Editor : Nofilawati Anisa