Ekonomi Gresik Hobi & Lifestyle Jatim Mancanegara Nasional Olahraga Person of The Year Selebriti Sidoarjo Surabaya Tekno & Oto Wisata & Kuliner

Ini Asal Mula Tradisi Bagi-Bagi THR dan Uang Baru saat Idul Fitri

Rahmat Sudrajat • Rabu, 3 April 2024 | 15:01 WIB
Bagi-bagi uang saat lebaran menjadi tradisi yang tetap eksis di Indonesia hingga kini.
Bagi-bagi uang saat lebaran menjadi tradisi yang tetap eksis di Indonesia hingga kini.

RADAR SURABAYA – Sudah menjadi tradisi di masyarakat Indonesia saat menerima tunjangan hari raya (THR) Idul Fitri kemudian menukarkan dengan uang baru sebelum membagikannya kepada sanak saudara.

Munculnya fenomena bagi-bagi uang baru dari THR ini dikarenakan budaya atau tradisi masyarakat sejak dulu.

Bahkan tradisi pemberian uang konon berasal dari budaya Timur Tengah yang diadopsi oleh masyarakat Indonesia.

Hal itu juga menjadi pengaruh dari maraknya jasa penukaran uang yang setiap menjelang lebaran selalu menjamur.

Antropolog Universitas Airlangga (Unair), Djoko Adi Prasetyo mengatakan, walaupun dalam sejarah belum tertulis dengan jelas, tetapi tradisi THR kemungkinan berasal dari pengejawantahan bentuk sedekah sesuai ajaran Islam.

Tradisi tersebut, tidak lepas dari proses akulturasi budaya yang dilakukan masyarakat Indonesia.

“Beberapa catatan sejarah Kerajaan Mataram Islam, pada abad ke-16 hingga ke-18, para raja dan bangsawan biasa memberikan uang baru sebagai hadiah kepada anak-anak para pengikutnya saat Idul Fitri,” kata Djoko, Rabu (3/4).

“Hadiah uang baru tersebut diberikan sebagai bentuk rasa syukur atas keberhasilan mereka dalam menyelesaikan ibadah puasa selama sebulan penuh,” imbuhnya.

Lebih lanjut Djoko menjelaskan, dalam catatan sejarah, terungkap pertama kali budaya THR tercetus pada era kabinet Soekiman Wirjosandjojo dari Partai Masyumi yang bertujuan untuk meningkatkan kesejahteraan aparatur negara.

Hingga saat ini masyarakat masih mempertahankan tradisi pemberian uang baru sebagai wujud kasih sayang dan rasa persaudaraan di antara keluarga dan kerabat.

Tak hanya tradisi atau kebiasaan, namun fenomena pergeseran kebiasaan berbagi THR karena teknologi uang elektronik.

Menurutnya, meskipun THR saat ini bisa berwujud uang elektronik, hal ini tidak mengurangi makna simbol tentang kesucian dan kebersihan, ucapan terima kasih, rasa hormat, rasa bangga jika bisa berbagi, serta rasa bersyukur.

“Kita juga harus paham bahwa budaya itu tidak abadi. Selama budaya itu masih ada masyarakat pendukungnya, maka budaya itu akan tetap Lestari,” tuturnya.

“Demikian sebaliknya, apabila masyarakat pendukung budaya tersebut sudah tidak mendukung lagi, maka budaya itu akan terkikis dan bahkan musnah,” pungkasnya. (rmt/nur)

Editor : Nurista Purnamasari
#uang baru #idul fitri #lebaran #tradisi masyarakat #thr #timur tengah