RADAR SURABAYA - Jasa penukaran uang baru menjelang lebaran semakin ramai di Surabaya.
Mereka menjanjakan uang baru dari pecahan Rp 2 ribu, Rp 5 ribu, Rp 10 ribu hingga Rp 20 ribu.
Meski banyak pelaku jasa penukaran uang baru yang mengeluh tahun ini sepi tidak seperti tahun lalu.
Jasa penukaran dadakan itu seperti di sekitar kawasan Jalan Pahlawan Surabaya. Mereka sejak pagi sudah ada yang menjajakan itu hingga sore hari, bahkan sampai malam.
Salah satu pelaku jasa penukaran uang baru, Saiful mengaku saat ini uang baru agak susah didapat. Bahkan cenderung harganya lebih mahal jika dibandingkan tahun lalu.
Ia menyebut untuk uang pecahan Rp 20 ribu dapatnya 5 persen atau Rp 150 untuk uang pecahan Rp 15 ribu 15 persen atau Rp 125 ribu, sedangkan pecahan Rp 2 ribu 10 persen Rp 105 ribu.
"Masih sepi sekarang. Kalau tahun lalu hari hari seperti ini sudah ramai. Karena sekarang harganya mahal dan barangnya susah dicari," ungkap Saiful, Minggu (31/3).
Meski demikian setiap hari menurutnya ada saja pembeli sebagai pelaris saja. Selain itu alasan lain pembeli sepi dikarena banyak masyarakat yang menukarkan langsung di bank.
"Sekarang banyak masyarakat yang tukar lewat penukaran (bank, Red). Sekarang saya dapat Rp 200 ribu ya disyukuri. Kalau tahun lalu sehari bisa Rp 1 juta," terangnya.
Mendekati lebaran kurang seminggu menurutnya penukaran bisa ramai, namun terkadang pelaku jasa penukaran uang baru juga menaikan harganya.
"Biasanya kurang seminggu malah dinaikkan, karena barangnya sulit dan permainan banyak. Mudah-mudahan mendekati lebaran bisa ramai kembali," harapnya.
Pelaku jasa lainnya, Nurul Hasanah mengaku tahun ini harga yang paling mahal adalah pecahan uang Rp 5 ribu harganya Rp 115 ribu.
Bahkan barangnya sampai kosong sehingga harga mengalami kenaikan.
"Ya karena pertama dari Rp 110 ribu sekarang Rp 115 ribu per 100 lembar. Rp 5 ribu yang mahal, barangnya kosong juga," tutur Nurul.
Ia biasanya mengaku berjualan hingga malam takbiran karena banyak masyarakat yang mencari uang baru untuk dibagikan keesokan harinya saat idul fitri.
"Ya biasanya saya jualan sampai malam takbiran. Itu yang ramai," pungkasnya. (rmt/opi)
Editor : Nofilawati Anisa