Oleh RD Pey Hurint
Kesengsaraan dan penderitaan entah lahir maupun batin memang merupakan kejutan yang dahsyat bagi setiap orang. Bagi yang tertimpa musibah, tak sanggup tengadah melihat ke arah mana pun. Sedang bagi yang tak mengalami, ini sesuatu yang mencengangkan.
Dan sejalan dengan itu muncul sebaris tanya: "Mengapa ada penderitaan?" Lebih-lebih jika derita itu menimpa pada mereka yang dianggap saleh dan benar.
"Dia orang baik dan saleh, mengapa justru begitu menderita?"
Kisah Hamba Yahwe yang menderita melukiskan kisah duka dan derita Kristus. Hamba Yahwe yang saleh dan tak bersalah harus menderita demi menanggung semua dosa dan kelemahan kita.
"Derita kitalah yang ditanggungnya, sengsara kitalah yang dipikulnya. Ia ditikam karena kedurhakaan kita dan dihancurkan karena kejahatan kita. Siksa yang menimpa dia membawa perdamaian dan kita sembuh berkat bilur-bilur tubuhnya."
Yesus Kristus "Hamba Yahwe" taat pada rencana dan kehendak Allah. Kesadaran diri Yesus sebagai "Ebed Yahwe" yang membuat Yesus dengan sukacita memikul salib derita:
"Ya Bapa, sekiranya boleh, biarkan piala ini berlalu. Tapi bukan karena kehendak-Ku, melainkan kehendak-Mulah yang terjadi." Setelah perjuangan dahsyat, Yesus berseru: "Ya Bapa, ke dalam tangan-Mu Kuserahkan Roh-Ku."
Di hadapan Allah sengsara dan derita bisa menampilkan "hasil" bila sengsara dan derita itu merupakan akibat, tanda suatu perjuangan yang gigih.
Sengsara dan derita tidak pernah punya arti sebagai tujuan hidup, melainkan berarti karena mengungkapkan pergumulan dan perjuangan hidup. Di dalam derita dan sengsara tampil sifat mulia. Sengsara dan derita juga punya arti sosial, yaitu solidaritas dalam kegagalan bersama.
Ada orang yang menderita karena mau menanggung beban sesamanya. Beban itu tetap berat, meskipun bisa dijinjing dengan kebesaran hati. Dia menderita karena berbuat silih. Penderitaan itu menjadi tanda kebesaran hati.
Yesus menderita demi menebus dosa dan salah kita. Yesus mamanggul salib dengan hati penuh cinta bagi manusia pendosa.
Pada Minggu Palma orang mengelu-elukan Dia: "Hosana Putera Daud, terpujilah yang datang atas nama Tuhan."
Hari ini dari mulut yang sama terdengar teriakan: "Salibkan Dia! Enyahkanlah Dia!"
Kita begitu gampang menghujat dan membully sesama, bila dia tak berarti bagi kita. Bahkan ketika ada yang menderita dan bernasib malang, dia kita tinggalkan.
Kita hanya mau dekat dengan mereka yang mapan secara sosial dan ekonomi. Kita juga sering menghakimi sesama secara keji dengan tuduhan palsu. Tanpa sadar, saat kita melakukan semuanya itu, kita sedang juga ikut menyalibkan Kristus, menyoraki Dia: "Salibkan Dia! Enyahkanlah Dia!"
¤Salib adalah kasih. Salib tanda kemenangan. Kita gampang mengeluh ketika ada derita-derita kecil yang kita alami. Sakit dan penyakit yang diterima dengan gembira hati, terluka tapi tetap mencintai, tersakiti tapi terus mengasihi adalah cara kita ikut ambil bagian dalam memikul salib bersama Yesus.
Seperti Kristus, kasih kita juga mesti kasih sampai berdarah-darah, tetap mencintai walau terluka. Salib adalah tanda kasih dan pengampunan. Karena dari atas Salib-Nya, Yesus mengampuni para algojo:
"Ya Bapa, ampunilah mereka, karena mereka tidak tahu apa yang mereka lakukan." Kita belajar dari Yesus, untuk terus mengasihi dan mengampuni, mencintai dan memaafkan sesama, walau seberat apa pun derita kita.
Mari kita pandang salib Kristus dan memikul salib derita kita dengan setia bersama Dia. Kita tautkan salib kita yang kecil dan sederhana pada salib Kristus, agar beban hidup dan salib kita terasa ringan dan enak untuk dipikul.
Mari kita mati dari dosa-dosa kita, agar kita juga boleh ikut bangkit bersama Dia dalam kemuliaan.
Selamat merenungkan kisah sengsara Yesus dalam ibadat Jumat Agung ini. (rek)
Editor : Lambertus Hurek