RADAR SURABAYA - Sudah hampir lima tahun terjadi semburan air bercampur minyak di kawasan Kutisari Indah Utara III/19 Surabaya. Saat ini masih ada semburan tapi dalam skala sangat kecil.
Petugas mengamankan semburan itu dengan membuat bak penampung minyak mentah di pinggir jalan. Sesekali minyak mentah yang ditampung di dalam bak tersebut dikuras.
"Sekarang sudah sangat aman. Warga sekitar anggap sebagai fenomena alam biasa saja. Enggak ada yang panik kayak awal-awal semburan karena sudah biasa," kata seorang warga Kutisari kepada Radar Surabaya, Kamis 28 Maret 2024.
Menurut dia, awalnya minyak mentah itu sangat kental seperti di sumur-sumur minyak tradisional umumnya. Makin lama kandungan airnya yang jauh lebih banyak. Minyak mentah itu pun terlihat encer.
"Mungkin sudah makin sedikit kandungan minyaknya karena sudah bertahun-tahun nyembur," katanya.
Pakar geologi Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS), Dr Ir Amien Widodo MSi, menjelaskan bahwa Surabaya menjadi salah satu kota eksploitasi migas oleh Belanda. Sebab, Surabaya termasuk pada basis cekungan Jawa Timur yang juga termasuk Cepu hingga Selat Madura Kangean.
Kondisi ini menyebabkan lapisan bawah tanah Kota Surabaya memiliki banyak lipatan akibat pergerakan lempeng bumi. “Pada daerah itu banyak berpeluang untuk menghasilkan migas,” terangnya.
Eksploitasi minyak dimulai sejak tahun 1886 dan ditinggalkan pada 1937. Ada tiga lapangan bekas eksplorasi migas oleh Belanda di Surabaya. Tepatnya berada di sekitar Lidah Kulon, Klurak, dan Kutisari.
“Setidaknya di setiap daerah tersebut terdapat puluhan sumur yang dulunya aktif mengeluarkan migas dari dalam tanah,” ungkap Amien.
Ia pun menyebutkan bahwa sebenarnya sudah ada data mengenai keberadaan sumur-sumur migas tersebut. Namun, untuk titik koordinatnya sendiri masih memiliki ketidakpastian sebesar dua kilometer (km).
“Kondisi ini yang menjadi penghambat dalam mencari sumur itu dengan cepat dan tepat,” ungkapnya. (rek)
Editor : Lambertus Hurek