Ekonomi Gresik Hobi & Lifestyle Jatim Mancanegara Nasional Olahraga Person of The Year Selebriti Sidoarjo Surabaya Tekno & Oto Wisata & Kuliner

SEJARAH: 6.000 Pejuang Tewas dalam Pertempuran 10 November di Surabaya, Ini Penyulutnya

Nofilawati Anisa • Rabu, 27 Maret 2024 | 18:40 WIB
MEMBARA: Yang menjadi akar dari perang yang berpuncak pada tanggal 10 November ini adalah kedatangan tak diundang tentara sekutu di Tanjung Perak pada 25 Oktober 1945. (BAKESBANGPOLKULONPROGO)
MEMBARA: Yang menjadi akar dari perang yang berpuncak pada tanggal 10 November ini adalah kedatangan tak diundang tentara sekutu di Tanjung Perak pada 25 Oktober 1945. (BAKESBANGPOLKULONPROGO)

RADAR SURABAYA - Warga Indonesia memperingati Hari Pahlawan setiap tanggal 10 November sebagai bentuk hormat kepada pada pejuang yang telah berjuang melawan sekutu demi mempertahankan kemerdekaan Indonesia.

Hal ini didasarkan pada Keputusan Presiden No 316 Tahun 1959 tentang Hari-Hari Nasional yang Bukan Hari Libur dan ditandatangani langsung oleh Presiden Ir. Soekarno.

Pertempuran yang menggugurkan sekitar 6.000 pejuang Indonesia itu berlangsung selama kurang lebih tiga minggu.

Lamanya pertempuran ini tak luput dari persoalan-persoalan baru yang memantik emosi salah satu kubu yang pada akhirnya membuat mereka kembali memanas.

Yang menjadi akar dari perang yang berpuncak pada tanggal 10 November ini adalah kedatangan tak diundang tentara sekutu di Tanjung Perak pada 25 Oktober 1945.

Dipimpin oleh Jenderal Aubertin Walter Sothern Mallaby atau AWS Mallaby, kedatangan tentara sekutu tersebut kali ini bertujuan untuk merampas senjata para tentara Jepang yang kalah dalam Perang Dunia II sekaligus membebaskan tawanan perang yang ditahan di penjara Kalisosok Surabaya.

Dua hari setelahnya, tepatnya pada tanggal 27 November 1945, pesawat militer milik tentara sekutu terbang dari Jakarta ke Surabaya menyebarkan ribuan pamflet Hawthorn yang memerintahkan warga Indonesia agar menyerahkan senjata yang mereka miliki.

Tentara sekutu bahkan mengancam akan menembak siapapun yang menolak untuk menyerahkan senjata.

Tidak terima, warga Indonesia pun melakukan perlawanan selama tiga hari yang pada akhirnya membuat tentara Sekutu terpojok.

Pertempuran-pertempuran ini terjadi di sejumlah titik di Kota Surabaya seperti di jalan Benteng Miring, jalan Sikatan, penjara Koblen, Kaliasin, dan masih banyak lagi.

Pertempuran sempat mereda setibanya petinggi Indonesia seperti Soekarno, Mohammad Hatta, serta Amir Sjarifuddin, bersama tokoh pemuda seperti Sumarsono dan Bung Tomo tiba di Surabaya pada 29 Oktober 1945, untuk berunding bersama AWS Mallaby.

Pertemuan mereka pada akhirnya menghasilkan kesepakatan untuk melakukan gencatan senjata antara Indonesia dan tentara Sekutu.

Setelah keputusan gencatan senjata tersebut, AWS Mallaby terbunuh ketika dia sedang duduk di kap mobil saat melakukan pawai kecil-kecilan di sekitar Jembatan Merah Surabaya.

Kematian AWS Mallaby pun menyulut amarah pihak Sekutu.

Mayor Jenderal Eric Carden Robert Mansergh menggantikan tugas AWS Mallaby dan menyiapkan pasukan tentara Sekutu beserta puluhan tank dan pesawat tempur untuk melakukan perang melawan arek-arek Surabaya.

Pemimpin yang juga menjabat sebagai Panglima Divisi Infantri 5 itu kemudian menyerahkan sebuah ultimatum kepada Gubernur Soerjo yang pada akhirnya menyulut emosi sekaligus membakar semangat perjuangan warga Indonesia di Surabaya.

Ultimatum tersebut berisi:
“Mereka harus datang dengan berbaris satu per satu serta membawa segala macam senjata yang ada pada mereka. Segala senjata tersebut diletakkan (ditaruhkan) di tanah pada suatu tempat yang jauhnya seratus meter dari tempat pertemuan itu. Dan kemudian mereka itu harus datang ke muka dengan kedua belah tangannya diangkat ke atas kepalanya masing-masing dan mereka akan ditahan, serta harus menandatangani penyerahan dengan tidak pakai perjanjian apa pun.”

Keesokan harinya, pada tanggal 10 November 1945, perang tak kenal ampun yang menewaskan sekitar 6.000 warga Indonesia di Surabaya dan 600 tentara Sekutu pun terjadi. (sha/nug)

 

 

Editor : Nofilawati Anisa
#pejuang tewas #kemerdekaan #Pertempuran 10 November #sejarah Surabaya