RADAR SURABAYA – Memasuki bulan Ramadan selalu identik dengan beberapa hal.
Selain ibadah wajib dan sunnah, ada tradisi saat Ramadan yang beragam dan unik di berbagai Negara, termasuk di Indonesia.
Salah satu tradisi unik saat Ramadan di Indonesia adalah berbagi takjil di jalanan.
Takjil identik dengan menu buka puasa. Banyak orang mengira takjil merupakan nama makanan. Namun sebenarnya makna takjil adalah menyegerakan.
Takjil sudah menjadi salah satu sarana dakwah Wali Songo yang menyebarkan Islam di Jawa sekitar abad ke-15.
Sejak saat itu, tradisi takjil dilestarikan oleh Muhammadiyah dan menjadi populer di kalangan muslim di Indonesia.
Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) mengistilahkan takjil sebagai makanan untuk berbuka puasa yang disegerakan.
Belakangan ini tren berburu takjil tidak hanya datang dari masyarakat muslim saja.
Masyarakat yang tidak memeluk agama Islam juga ikut serta. Bahkan tren ini tengah menjadi perbincangan di sosial media.
Guru Besar Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) Universitas Airlangga (UNAIR) Prof Dr Bagong Suyanto mengatakan, momen Ramadan bisa mempererat tali persaudaraan antar umat beragama.
“Kalau masyarakat muslim beli takjil kebanyakan untuk konsumsi pribadi. Kalau masyarakat non muslim beli takjil selain untuk konsumsi pribadi, ada juga yang dibagikan kepada masyarakat yang menjalankan puasa,” katanya.
Tak hanya itu saja, Guru Besar Ilmu Sosiologi tersebut mengungkapkan bahwa fenomena ini menjadi bentuk kerukunan antar umat beragama.
Hal ini membuktikan bahwa meski Indonesia memiliki masyarakat yang beragam, tapi tali persatuan masih terikat dengan erat.
“Saya melihat fenomena ini sebagai bentuk tindakan yang rukun antar umat beragama,” ungkapnya.
Prof Bagong menambahkan, fenomena ini merupakan tren yang baik.
Fenomena ini mengandung pesan moral untuk saling menghormati meski memeluk agama yang berbeda.
“Saya rasa ini tren yang baik, supaya memberikan gambaran kepada masyarakat bahwa meski berbeda agama tetap harus saling menghormati satu sama lain,” ujarnya.
Dekan FISIP Unair ini berharap bahwa tren yang memberikan dampak positif seperti ini bisa terus berlanjut.
Apalagi kondisi masyarakat Indonesia yang beragam sehingga sikap yang toleran perlu terbangun dengan baik.
“Di masyarakat multipluralis seperti Indonesia harus dibangun sikap yang toleran,” pungkasnya. (mus/nur)
Editor : Nurista Purnamasari