Ekonomi Gresik Hobi & Lifestyle Jatim Mancanegara Nasional Olahraga Person of The Year Piala Dunia 2026 Selebriti Sidoarjo Surabaya Surabayapedia Tekno & Oto Wisata & Kuliner

KISAH DRAMATIS: Seorang Ibu Terpisah dengan Bayinya yang Baru Dilahirkan Saat Gempa Tuban 6,5 SR Mengguncang RS Unair Surabaya

Rahmat Sudrajat • Minggu, 24 Maret 2024 | 03:39 WIB

 

MENGHARUKAN: Nuraini dan bayinya, Muhammad Abidar Al Fatih saat di dalam gedung RSUA Surabaya, pasca evakuasi di dalam tenda darurat, Sabtu (23/3). (RAHMAT S/RADAR SURABAYA)
MENGHARUKAN: Nuraini dan bayinya, Muhammad Abidar Al Fatih saat di dalam gedung RSUA Surabaya, pasca evakuasi di dalam tenda darurat, Sabtu (23/3). (RAHMAT S/RADAR SURABAYA)

RADAR SURABAYA - Saat gempa melanda Laut Timur Tuban Jumat (22/3) kemarin, getarannya sangat terasa sampai ke Surabaya.

Hal ini membuat seorang ibu harus terpisah dengan bayinya yang baru dilahirkan di Rumah Sakit Universitas Airlangga (RSUA), Surabaya.

Bayi laki itu bernama Muhammad Abidar Al Fatih yang harus terpisah dengan kedua orang tuanya ketika gempa mengunjang dengan magnitudo 6,0 dan 6,5 skala richter (SR).

Kedua orang tuanya yakni Nuraini dan Eric sempat panik dan khawatir, karena mereka terpisah dalam satu gedung yang terdampak gempa.

Sang ibu ketika itu berada di ruang bersalin, sedangkan anak berada di ruang bayi, dan suami berada di luar gedung.

Nuraini ibu bayi, mengaku sempat panik dan pasrah ketika dalam situasi gempa besar yang terjadi sebanyak dua kali siang dan sore hari.

Padahal bayi yang lahir subuh pukul 04.28 WIB dalam kondisi normal itu, sempat berada di pelukan sang ibu.

Kemudian terjadi gempa besar di timur laut Tuban itu.

Nuraini mengaku saat terjadi gempa kondisi gedung RSUA sangat mencekam.

Saat itu ia berada di lantai 5 ruang persalinan.

"Saat itu saya berada di lantai 5 habis operasi melahirkan. Anak saya berada di ruang bayi. Kondisi di rumah sakit mencekam ketika gempa susulan terjadi. Terasa kencang di atas gedung," tutur Nuraini, Sabtu (23/3).

Getaran yang begitu terasa membuat seluruh pasien di rumah sakit yang terletak di Surabaya Timur dievakuasi di halaman parkir kendaraan rumah sakit.

Termasuk ayah dari bayi tersebut, Eric yang ketika itu sudah berada di luar, karena khawatir dengan kondisi anak dan istri.

Ia berusaha untuk menjemput istrinya yang masih dalam kondisi lemas setelah persalinan melahirkan anak yang kedua.

Namun situasi membahayakan, petugas pun melarang Eric untuk masuk kembali ke dalam gedung.

Kondisi gedung juga terguncang beberapa bagian runtuh termasuk di lantai 5 yang berdekatan dengan tempat ruang bersalin sang istri.


Kepanikan Eric semakin tak terbendung karena terpisah dengan anak dan istri saat gempa.

Eric akhirnya disuruh ikut evakuasi dari luar gedung.

Sang istri akhirnya berhasil selamat beserta dengan buah hatinya yang turut dievakuasi.

Ketiganya bertemu di tempat evakuasi.

Suasana tangis haru pun mengiringi pertemuan ketiganya.

"Rasanya campur aduk Mas, cemas dan khawatir. Apalagi istri di lantai 5 yang jauh dari titik evakuasi. Kondisinya masih kurang fit setelah persalinan. Sedangkan anak berada di ruang bayi. Saya gak boleh masuk kembali ke dalam gedung rumah sakit. Akhirnya kami bisa ketemu lagi di luar gedung setelah istri dan anak di evakuasi petugas," terang Eric.

Eric menambahkan saat gempa pertama juga terasa di gedung tersebut.

Saat menjelang gempa kedua istri dan sang buah hati sempat berkumpul.

"Sekitar 10 menit menjelang gempa kedua, anak saya sempat kumpul dengan ibunya terus kemudian terjadi gempa itu," imbuhnya.

Suasana di luar pun menjadi mencekam karena goncangan gempa dengan kedalaman dangkal itu masih terjadi beberapa menit.

Pihak rumah sakit dan BPBD Kota Surabaya langsung mendirikan tiga tenda darurat untuk mengantisipasi adanya gempa susulan yang membahayakan pasien.

Sementara itu dari total gempa yang terjadi di Tuban, BMKG mencatat sebanyak 159 kali gempa susulan yang terjadi sampai Sabtu (23/3). (rmt/opi)

 

Editor : Nofilawati Anisa
#Gempa Tuban Jatim #kisah dramatis #rs unair #ibu terpisah dengan bayinya