RADAR SURABAYA - Terapi musik. Pengobatan dengan musik. Apa bisa?
"Jawabannya bisa," kata pemusik sekaligus dosen musik Universitas Negeri Surabaya (Unesa) Musafir Isfanhari.
Isfanhari kemudian mencontohkan gerak jalan Surabaya-Mojokerto (sekitar 50 km). Ketika sampai di daerah yang sepi dan gelap, maka bisa terjadi semangat jadi turun.
Nah, saat itulah komandan pasukan bukan membagikan vitamin sebagai suplemen, tapi mengajak para peserta untuk menyanyi lagu-lagu yang bersemangat seperti "Hallo hallo Bandung" atau "Maju tak Gentar" atau lagu-lagu yang sedang populer.
Lagu yang bersemangat tersebut berhasil membangkitkan semangat peserta untuk bergerak maju menuju finish di Surabaya.
"Di masyarakat yang berbudaya Jawa, ketika menidurkan anak, sang ibu menyanyikan lagu "Tak Lelo Lelo Ledung".
Lagu tersebut, yang pola melodinya ngelangut bisa membuat sang bayi menjadi terlena, mengantuk dan langsung tidur," kata pria yang kerap jadi juri lomba menyanyi di Surabaya.
Dua ilustrasi tersebut, menurut Isfanhari, membuktikan bahwa pengobatan dengan musik sesungguhnya tanpa disadari sudah ada di masyarakat kita sejak lama. Tentu saja untuk pengobatan yang lebih luas dan lebih jauh memerlukan pemahaman musik yang lebih luas dan lebih dalam. Dan ini tentu tidak sederhana.
"Perlu meneliti lebih dalam kondisi psikologis pasien yang akan diterapi, lingkungan budayanya, hobinya, selera musiknya dan yang lain yang rumit. Misalnya, seorang pasien dengan lingkungan budaya Jawa, tidak mungkin diterapi dengan musik Barat, atau sebaliknya," kata Isfanhari. (rek)
Editor : Lambertus Hurek