Ekonomi Gresik Hobi & Lifestyle Jatim Mancanegara Nasional Olahraga Person of The Year Selebriti Sidoarjo Surabaya Tekno & Oto Wisata & Kuliner

MISTERI SURABAYA: Jin Bersayap Berambut Gimbal Penunggu Makam Belanda Peneleh

Jay Wijayanto • Sabtu, 23 Maret 2024 | 01:02 WIB
Makam Belanda di Peneleh Surabaya.
Makam Belanda di Peneleh Surabaya.

SURABAYA - Makam Belanda Peneleh di Surabaya merupakan salah satu dari sejumlah makam tertua yang penuh dengan keindahan seni namun menyimpan banyak misteri di Surabaya.

Terletak di Jalan Makam Peneleh nomor 35 A, Surabaya, makam ini konon menjadi tempat peristirahatan bagi para pejabat Hindia Belanda, serta orang orang Eropa dari berbagai negara antara lain Swiss, Norwegia, Belanda, Jerman, Inggris, Italia, Armenia, Prancis, Belgia, hingga Austria.

Makam Belanda Peneleh di Surabaya tidak lagi digunakan oleh pemerintah kolonial sejak tahun 1924.

Meskipun sempat terbengkalai, makam yang memiliki nilai keramat ini kini terlihat terawat dan bersih.

Selalu menarik untuk membicarakan hal-hal mistis terkait malam ini.

Karena keberadaannya tidak bisa dibuktikan namun banyak orang yang memberikan kesaksian tentang pengalaman mistis melihat penampakan mahluk astral di sana.

Menurut penuturan Irul, penjaga makam, makam yang sudah ada sejak zaman kompeni ini memang menyimpan banyak misteri.

Dia mengaku pernah mengalami langsung tiga kejadian mistis.

Makam Belanda di Peneleh Surabaya.
Makam Belanda di Peneleh Surabaya.

Yakni munculnya jin raksasa berambut gimbal dan bersayap, adanya suara seperti tentara berbaris, dan peristiwa yang tidak masuk akal di sekitar pohon asam.

Irul menceritakan bahwa sebelum pepohonan di kompleks pemakaman tersebut ditebang untuk mengurangi kesan seram, ia pernah melihat langsung penampakan jin raksasa bersayap.

“Sumpah demi Allah, Mas. Gak mbujuk aku (saya tidak menipu). Iki lo aku sampek merinding,” ucapnya dengan meyakinkan.

Kejadian itu masih terukir jelas dalam ingatannya, terjadi sekitar pukul 01.30 WIB malam Jumat legi.

Saat itu, ia sedang berjalan-jalan di area makam yang terdapat patung di dekatnya.

Tiba-tiba, ia melihat bayangan lain selain bayangan patung dan dirinya sendiri.

Tanpa berpikir panjang, ia menoleh ke belakang dan terkejut melihat sosok raksasa dengan kepala berambut gimbal dan sayap seperti kelelawar.

“Aku langsung melayu (berlari), Mas. Sampen percoyo gak, jarak ke nang gerbang iku loh aku ngeroso koyok sak jam,” ucapnya.

Area tempat Irul melihat sosok itu dengan gerbang hanya berjarak beberapa meter, namun dia merasa sangat jauh, seolah-olah membutuhkan waktu berlari selama satu jam.

Bagian lain yang paling ikonik sekaligus kharismatik dari makam ini adalah pohon asam yang berada di tengah-tengah area pemakaman.

Menurut Irul pohon itu menjadi pusat kekuatan gaib. "Dulu ada sepasang calon pengantin yang hendak melakukan foto prewed di sini. Saat pertama kali datang, saya sudah memperingatkan mereka untuk berhati-hati dan bersikap santun, terutama karena mereka ingin mengambil foto di area pohon asam itu. Namun, sang laki-laki dengan angkuh mengaku masih memiliki hubungan darah dengan Mbah Gus Dur," ujarnya.

Mendengar kesombongan laki-laki itu, Irul spontan berpikir di dalam hati bahwa pasti akan terjadi suatu peristiwa sebagai pengingat.

Tak lama setelah itu, saat si perempuan mulai berjalan mendekati pohon asam, ia tiba-tiba berbalik lari sambil berteriak, "pulang..... pulang."

“Saya kira dia sudah kapok, Mas. Selang seminggu, dia kembali lagi dan membaca semacam wirid di dekat pohon asam yang seolah ingin melawan gegara kejadian sebelumnya,” ujarnya.

Beberapa saat setelah itu, datang semacam angin puting beliung yang memutar-mutarkan tubuh lelaki tersebut hingga jatuh terlentang.

"Sejak kejadian itu, saya tak pernah lagi melihatnya kembali ke sini," tambah Mas Irul.

Tentunya, percaya atau tidak adalah hak pembaca.

Yang jelas, makam ini merupakan tempat peristirahatan terakhir bagi pejabat kolonial ternama, seperti Residen Surabaya Daniel Francois Willem Pietermaat (1790–1848), Gubernur Jenderal Hindia Belanda Pieter Merkus (1787–1844), Wakil Direktur Mahkamah Agung Hindia Belanda Pierre Jean Baptiste de Perez, hingga seorang penerjemah dan ahli bahasa terkemuka saat itu, Van Der Tuuk.(mg2/sat/nug/jay)

Editor : Jay Wijayanto
#makam peneleh #misteri surabaya