RADAR SURABAYA - Kota Pahlawan memiliki segudang tokoh-tokoh besar.
Tak hanya laki-laki, tokoh perempuan pun masuk perhitungan.
Mulai dari era perjuangan hingga sekarang.
Pengamat Sejarah Nur Setiawan menjelaskan, tiap periodisasi memiliki nama tokoh perempuan yang gemilang.
Kata dia, pada masa perjuangan melawan penjajah, muncul nama Lukitaningsih.
Seorang pejuang wanita yang berperan pada 1945 silam.
"Ketua organisasi Pemuda Putri Republik Indonesia (PPRI) yang merupakan organisasi rakyat yang bersifat militer. Dia juga terlibat dalam rapat samudera di lapangan Tambaksari yg bertujuan menjaga kedaulatan RI," ujarnya, Rabu (20/3).
Wawan akrabnya mengatakan, Lukitaningaih mengajak para perempuan untuk bergabung dalam pembelaan kemerdekaan.
Saat itu, penyebarluasan suara tersebut melalui surat kabar pada 24 Oktober 1945.
Hingga pertempuran tumpah pada 10 November 1945, dia bersama PPRI terjun ke medan perang.
"PPRI juga membentuk palang merah khusus untuk mengurus para korban untuk dibawa ke pos-pos lalang merah dan rumah sakit terdekat," bebernya.
Selain itu, ada nama Dariyah yang dikenal sebagai Bu Dar Mortir.
Pejuang wanita tersebut pun turun ke dalam perang 10 November hingga agresi militer Belanda I dan II.
Kata Wawan, Bu Dar Mortir berperan penting di garis belakang.
"Para perempuan juga berperan penting dalam memastikan agar dapur umum terus menghasilkan makanan bagi para pejuang," ungkapnya.
Wawan mengungkapkan, Bu Dar Mortir pun memiliki sikap tegas.
Dia mengatur proses pengambilan ransum makanan.
Sehingga, para prajurit logistik semakin tertib.
"Julukan mortir berawal dari kebiasaan Bu Dar yang sering melemparkan kunyahan daun sirih dan tembakau kepada para prajurit yang tidak tertib. Kunyahan daun sirih tersebut juga berbentuk bulat seperti mortir," jelasnya.
Tak hanya itu, era 60-an, ada tokoh perempuan di sektor kesenian.
Mereka membentuk sebuah grup band wanita yang beranggotakan tiga orang wanita muda.
Nama band tersebut yaitu Dara Puspita.
"Band wanita ini tak hanya tenar di panggung nasional namun juga hingga ke mancanegara," kata Wawan.
Masih di sektor kesenian, Wawan menyebutkan satu tokoh perempuan berama Ida Laila.
Dia pedangdut asal Surabaya. Pada era 70-an hingga awal 90-ann namanya populer.
Katanya, Ida Laila kerap mengisi belantika musik nasional.
"Selain penyanyi beliau juga seorang pendakwah. Kerap keluar masuk kampung untuk memberikan ceramah keagamaan sekaligus bakti sosial," imbuhnya. (hil/opi)
Editor : Nofilawati Anisa