Ekonomi Gresik Hobi & Lifestyle Jatim Mancanegara Nasional Olahraga Person of The Year Selebriti Sidoarjo Surabaya Tekno & Oto Wisata & Kuliner

Over Capacity Menjadi Tantangan, Pemkot Surabaya Siapkan Skema Ini Untuk Berdayakan PMKS

Hildan Sepka • Senin, 18 Maret 2024 | 18:00 WIB
OVER CAPACITY: UPTD Griya Wreda Jambangan sudah kelebihan kapasitas, untuk itu dibutuhkan tempat baru. (SURABAYA.GO.ID)
OVER CAPACITY: UPTD Griya Wreda Jambangan sudah kelebihan kapasitas, untuk itu dibutuhkan tempat baru. (SURABAYA.GO.ID)

RADAR SURABAYA – Pemerintah Kota (Pemkot) Surabaya tengah mendirikan Panti Griya Wreda baru.

Fasilitas itu diproyeksi memberikan dampak positif.

Dinas Sosial (Dinsos) sudah menyiapkan langkah saat bangunan itu sudah diresmikan.

Kepala Dinsos Kota Surabaya Anna Fajriatin mengatakan, pemkot terus berupaya untuk merawat dan memberdayakan penyandang masalah kesejahteraan sosial (PMKS).

Salah satu kebijakannya dengan mendirikan Panti Griya Wreda di Babat Jerawat, Pakal.

Sebab, tantangan utama pemkot yaitu over kapasitas.

"Saat ini sedang onprocess," ujar Anna, Minggu (17/3).

Kata dia, fasilitas baru digunakan sebagai pusat penampungan lanjut usia (lansia) terlantar.

Selain itu, untuk mengurangi bebas UPTD Griya Wreda Jambangan dan Kalijudan.

Pihaknya mengaku sudah menyiapkan skema saat fasilitas di Babat Jerawat berhasil diresmikan.

"Kita maksimalkan semuanya," ucapnya.

Anna menyampaikan, seluruh penghuni di dua lokasi bakal dipindahkan ke fasilitas baru.

Sehingga, bangunan di Jambangan dapat dialihfungsikan.

Rencananya sebagai tempat anak-anak disabilitas.

"Nanti yang UPTD Kalijudan akan dijadikan asrama Sekolah Bibit Unggul," ungkapnya.

Saat ini, dinsos menangani 26 PMKS.

Antara lain, orang dengan gangguan jiwa, anak terlantar, disabilitas, korban tindak kekerasan, lanjut usia terlantar, hingga korban human trafficking.

Anna menjelaskan, pihaknya menggandeng sejumlah instansi teknis untuk merawat mereka.

"Untuk rehabilitasi sosial, bimbingan fisik, mental, spiritual, serta sosial. Tujuannya, para PMKS pulih dalam fungsi sosial," bebernya.

Selain itu, Anna memaparkan, saat ini, penghuni Lingkungan Pondok Sosial (liponsos) berjumlah 1.134 jiwa.

Terdiri, 798 jiwa di Liponsos Keputih yang difungsikan untuk rehabilitasi sosial, 203 jiwa di UPTD Griya Wreda untuk lansia, 47 jiwa di UPTD Babat Jerawat untuk penyintas kusta, ODHA, dan TBC.

Serta ada 54 dan 32 jiwa di Liponsos Kalijudan dan Wonorejo yang berfungsi untuk anak berkebutuhan khusus dan penyandang disabilitas.

"Paling banyak yang sedang ditangani ODJG, lansa, dan disabilitas," sebutnya.

Sedangkan, untuk pemulung dan pengemis yang ditemukan biasanya langsung dilacak identitasnya.

Jika bukan warga Surabaya, pihaknya akan melakukan koordinasi dengan dinsos tempat asal.

Kemudian, mereka akan dipulangkan setelah terkonfirmasi.

Penanganan lain dilakukan pada penghuni ODGJ (orang dengan gangguan jiwa).

Dinsos mengidentifikasi latar belakang kehidupan sebelumnya kemudian melakukan pemberdayaan.

Anna mengucapkan, saat ini beberapa ODGJ binaan pemkot sudah berkarya.
"Membuat batik, melukis, handycraft, membuat keset, sampai menjadi cuci motor keliling," bebernya.

Sedangkan untuk penanganan lansia, dinsos memprioritaskan pada kesehatan.

Pihaknya memastikan kondisi lansia dalam keadaan stabil.

Selain itu, mengajak beraktivitas untuk mencegah pikun.

"Fokus kita mereka sehat, tidak pikun, mengaji, hidroponik buat yang perempuan dan ternak ikan buat yang laki-laki," imbuh Anna. (hil/opi)

 

Editor : Nofilawati Anisa
#Over Capacity #pemkot surabaya #griya wreda surabaya #penyandang masalah kesejahteraan sosial (PMKS)