Hasil Penelitian Dosen Unair, Episentrum Penyebaran HIV/AIDS Kebanyakan di Hotel dan Bar, Ini Alasannya

Rahmat Sudrajat • Dipublikasikan Kamis, 14 Maret 2024 | 02:32 WIB

 

Ilustrasi kasus HIV/AIDS. (DOK. JPC)
Ilustrasi kasus HIV/AIDS. (DOK. JPC)

SUKOLILO-Kementerian Kesehatan  menargetkan Indonesia bebas HIV/AIDS pada 2030. Namun, realitasnya kasus infeksi HIV di Indonesia masih bertambah setiap tahunnya.

Peneliti Institute of Tropical Disease (ITD) Universitas Airlangga Dr Siti Qamariyah Khairunisa baru saja menelurkan hasil penelitian tentang karakteristik evolusi dan pola transmisi HIV strain CRF01AE di Indonesia. CRF01 AE merupakan strain yang mendominasi di Indonesia.

Dr Siti Qamariyah Khairunisa mengatakan, penelitiannya itu berangkat dari keprihatinan terhadap kondisi HIV/AIDS di tanah air. Sejak masuk pada 1980-an, infeksi HIV/AIDS di dunia maupun di Indonesia terus bertambah.

“Virus HIV memang masih menjadi permasalahan serius. Berdasarkan data, angka infeksi baru terus bertambah,” katanya kemarin.

Di sisi lain, pengendalian HIV melalui akses terapi atau antiretroviral (ARV) di Indonesia masih terbilang minim. Hanya mencapai 28 persen. Padahal, organisasi kesehatan dunia (WHO) menargetkan akses ARV sebesar 95 persen.

“Kondisi tersebut membuat kami prihati, sehingga sejak awal kami melakukan penelitian  ini. Penelitian ini juga penting untuk melakukan monitor adanya mutasi yang berhubungan dengan resistensi ARV sehingga keberhasilan pemberian obat bisa diketahui juga lebih dini,” ujar Ria, sapaan akrabnya.

 Ria melakukan analisis transmisi HIV yang berfokus di Surabaya. Hasilnya, ada kawasan sebagai hot spot yang menjadi episentrum penyebaran HIV di Surabaya.

”Setelah kita lihat secara geografis memang di wilayah tersebut ada banyak hotel, bar, dan tempat-tempat yang berpotensi menjadi penyebaran HIV,” ungkapnya. (rmt/rek)

 

Editor : Lambertus Hurek
Dr Siti Qamariyah Khairunisa terapi HIV AIDS HAIV AIDS di Surabaya Institute of Tropical Disease penyebaran HIV AIDS Indonesia