SURABAYA - Selain melatih tarian untuk berbagai festival dan pergelaran, Sri Mulyani juga telaten membina anak-anak berkebutuhan khusus (ABK) alias disabilitas. Saat ini pendiri Sanggar Mulyo Joyo Enterprise itu tengah mendidik 15 anak disabilitas.
Sebagai koreografer, penari, dan guru tari kawakan, Sri mengaku tidak terlalu sulit mengarahkan para ABK untuk menguasai sebuah tarian. "Bagi saya, tidak ada tantangan. Hanya dibutuhkan ketelatenan, kesabaran, dan memiliki perhatian khusus pada setiap anak karena masing-masing memiliki karakter dan sifat yang berbeda-beda," kata Sri Mulyani kepada Radar Surabaya.
Menurut dia, semua tarian cocok buat anak difabel. Termasuk tarian yang menuntut gerakan-gerakan rumit dan sulit. Dia memiliki metode khusus pembelajaran teknik olah gerak dan pernapasan yang dapat bermanfaat untuk membantu terapi mereka.
"Dan, ada strategi khusus agar mereka cepat memiliki kualitas performance," kata perempuan yang sudah melanglang buana sebagai duta kesenian itu.
Apa yang ingin dicapai para ABK itu? "Saya ingin mereka mendapatkan kemampuan dan kesempatan yang sama seperti orang-orang normal lainnya," kata Sri Mulyani.
Sri berharap semoga pemerintah memberikan kesempatan kepada anak-anak disabilitas. Juga perhatian kepada sanggar-sanggar yang membina ABK seperti Mulyo Joyo Enterprise.
"Kami membuka kelas latihan bagi anak-anak disabilitas itu gratis tanpa ada subsidi dari siapa pun. Maka, jangan hanya memberi kesempatan tampil dari komunitas yang didirikan pemerintah saja. Kamipun juga punya kemampuan yang juga perlu diberi kesempatan agar menjadi bagian upaya pembinaan secara merata bagi masyarakat," kata Sri.
Selama ini Sri Mulyani mengajarkan tari tradisional, kreasi tradisional, modern dance, fashion, olah tubuh, yoga, dan tari kontemporer di sanggarnya kawasan Medokan Ayu, Surabaya. "Alhamdulillah, ada murid disabilitas yang saya ajari menari remo sering meraih prestasi juara 1," kata Sri bangga. (rek)
Editor : Lambertus Hurek