Ekonomi Gresik Hobi & Lifestyle Jatim Mancanegara Nasional Olahraga Person of The Year Selebriti Sidoarjo Surabaya Tekno & Oto Wisata & Kuliner

Perkuat Toleransi di Kota Surabaya, Pawai Ogoh-Ogoh Sambut Hari Nyepi Berlangsung Semarak

Hildan Sepka • Senin, 11 Maret 2024 | 03:04 WIB
SAMBUT NYEPI: Umat Hindu menggotong ogoh-ogoh saat pawai di Jalan Jaksa Agung Suprapto, Surabaya, Minggu (10/3).
SAMBUT NYEPI: Umat Hindu menggotong ogoh-ogoh saat pawai di Jalan Jaksa Agung Suprapto, Surabaya, Minggu (10/3).

 

 SURABAYA - Pemkot Surabaya menggelar pawai seni ogoh-ogoh, Minggu (10/3). Perayaan menyambut Hari Nyepi Tahun Baru Saka 1946 itu sangat meriah. Itu sejalan dengan komitmen mewujudkan Balai Kota Surabaya sebagai rumah toleransi.

 Wali Kota Surabaya Eri Cahyadi kembali membuka pintu balai kota untuk seluruh umat beragama. Nyatanya, pawai seni ogoh-ogoh itu merupakan perayaan keagamaan ketiga yang berhasil digelar. Setelah, perayaan Natal dan Cap Go Meh pada Januari dan Februari lalu.

"Ini menjadi contoh kerukunan dan keberagaman. Kita ingin menunjukkan bahwa Surabaya adalah kota yang penuh dengan toleransi," ujar Cak Eri, Minggu (10/3).

Itu menjadi langkah nyata Cak Eri untuk mewujudkan Kota Pahlawan yang damai. Sebelumnya pemkot kerap memasang hiasan simbol agama tertentu setiap memasuki perayaan hari besar keagamaan. Tahun ini, dia berkomitmen mewujudkan balai kota sebagai rumah toleransi.

“Sekarang tidak simbol lagi. Selain simbol, kami juga akan mengadakan perayaan di tempat ini dan kami akan lakukan setiap tahun," tegasnya.

Sementara itu, Kepala Badan Kesatuan Bangsa dan Politik (Bakesbangpol) Kota Surabaya Maria Theresia Ekawati Rahayu mengatakan, pawai itu dimulai pukul 14.00. Rutenya dimulai dari Jalan Walikota Mustajab, Sedap Malam, Jimerto, Jaksa Agung Suprapto. Kegiatan tersebut dalam rangka perayaan Hari Raya Nyepi.

"Pemkot Surabaya bersama PHDI (Parisada Hindu Dharma Indonesia). Acara ini akan dihadiri kurang lebih 2.500 umat Hindu yang ada di Kota Surabaya," ucap Maria.

Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Surabaya Dedik Irianto menyampaikan, pihaknya pun ikut turun tangan. Timnya memasang ornamen dekorasi berupa ogoh-ogoh dan pura di halaman Balai Kota dan Balai Pemuda. Selain itu, menghias pohon sekitar balai kota dengan kain poleng, motif kotak hitam-putih.

"Pemasangan dekorasi ini merupakan wujud dari Surabaya sebagai kota toleransi antarumat beragama," bebernya.

Staf Walaka PHDI Kota Surabaya Made Sueca menyampaikan, peringatan Nyepi tahun ini sangat istimewa. Momennya berdekatan dengan Galungan dan Hari Raya Kuningan. Selain itu, berdekatan dengan bulan suci Ramadan.

 "Ini pertama kali kita mengarak ogoh-ogoh dari balai kota, sebelumnya dulu sebelum pandemi biasanya diadakan di Tugu Pahlawan," jelasnya.

Menurut dia, total ada lima ogoh-ogoh. Terdiri dari satu dari Pemkot Surabaya dan sisanya dari umat Hindu yang ada di Kota Surabaya. Selain itu, PHDI pun menyiapkan penampilan Tabuh Baleganjur dan sendratari Sat Cit Ananda.

"Jadi, sebelum acara Pawai Seni Ogoh-Ogoh, umat Hindu sudah melakukan ritual atau prosesi keagamaan di Pura Segara Kenjeran terlebih dahulu," imbuhnya.

Seusai pawai seni, empat ogoh-ogoh dibawa kembali ke Pura Segara, Kenjeran. Dilanjutkan ritual keagamaan sesuai dengan tradisi kepercayaan umat Hindu untuk dilakukan prosesi pembakaran. Sedangkan, satu ogoh-ogoh kan dikembalikan sebagai dekorasi di halaman balai kota.

Tampak ribuan warga Surabaya pun memadati rute pawai yang disiapkan pemkot. Misalnya, Devi Rahmawati, 36, mengajak keluarganya menonton pawai ogoh-ogoh itu. Dia ingin menanamkan rasa toleransi kepada anaknya.

"Saya sengaja datang sama suami dan anak karena kami memang biasa tiap weekend jalan-jalan. Kebetulan ini pas ada pawai ogoh-ogoh. Jadi, saya sekalian bisa ngajarin anak saya yang masih SD tentang toleransi. Kami keluarga muslim," katanya. (hil)

Editor : Lambertus Hurek
#hari nyepi di surabaya #Pura Jagat Kirana Surabaya #Wali Kota Surabaya Eri Cahyadi #Nyepi di Balai Kota Surabaya #pawai ogoh ogoh