RADAR SURABAYA – Bukan hanya dikenal sebagai Kota Pahlawan karena perjuangannya mempertahankan kemerdekaan, Surabaya juga sangat lekat dengan musik.
Bahkan komposer besar yang juga pahlawan nasional, Wage Rudolf (WR) Soepratman tinggal dan menghembuskan nafasnya di Surabaya. Makamnya dapat dijumpai di kawasan Kenjeran.
Surabaya bakal menjadi kota yang menggelar peringatan Hari Musik Nasional yang jatuh setiap 9 Maret.
Puluhan kelompok musik dari berbagai daerah di Jawa Timur mengikuti pertunjukan musik dalam Parade Indonesia Bermusik.
Menariknya, mereka akan bermain musik selama 24 jam. Terhitung mulai Jumat (8/3) sore hingga Sabtu (9/3) di kompleks Taman Budaya Jawa Timur, Surabaya.
Acara ini diikuti berbagai genre musik. Mulai musik tradisional, jazz, hingga pop. Tak hanya itu, alat musik yang dimainkan juga berbagai macam.
Penanggung jawab Hari Musik Nasional, Heri Lentho mengatakan, perayaan hari musik dengan tujuan menggalakkan masyarakat untuk mencintai seni budayanya sendiri yakni musik.
Sekaligus mengemas pertunjukan ini dengan menyilangkan para penggemar musik seperti penggemar pop dan jazz dengan musik etnik Daul Lanceng Senopati dari Madura. Sehingga mereka saling mengapresiasi.
"Musik merupakan bagian yang tak dapat dilepaskan dari hidup. Dalam segi apa pun, musik memiliki pengaruh dan dampak kuat. Musik sebagai medium penyampai pesan. Melalui irama, lirik, nada, musik pun dapat menjadi sarana membangun bangsa. Menyuarakan nasionalisme, persatuan, serta manfaat-manfaat positif lainnya," kata Heri Lentho.
Berbagai kelompok musik, baik modern maupun tradisional tampil mulai Jumat sore hingga Sabtu sore.
Seperti, Sekaring Jagad, Musik Dolanan, The Crossover, ITS Band, Caravan Jazz, Bengkel Muda Surabaya, Lanceng Senopati, Keroncong Unesa, Karawitan Santa Maria, hingga Gamelan Baladewa.
Pada 9 Maret juga digelar ziarah ke makam WR Soepratman. Mereka akan berkumpul untuk berziarah serta bernyanyi lagu dari WR Soepratman. Selain itu ada juga diskusi musik membangun jiwa bangsa.
"Kita ketahui musik punya pengaruh besar terhadap kejiwaan. Ini perlu dirawat," terangnya.
Dipuncak Hari Musik Nasional juga menampilkan drama musikal yang dikemas dengan ludruk yang berjudul Katarsis Sang Garuda.
Memaknai garuda sebagai simbol negara, serta musik dan kebudayaan yang menjadi landasan.
"Pondasi peradaban dan kekuatan sebuah bangsa adalah kebudayaan. Maka, musik sebagai bagian dari kebudayaan, posisinya sangat penting untuk membangun bangsa," tegas Heri Lentho.
Direktur Perfilman, Musik, dan Media Kemendikbudristek, Ahmad Mahendra menjelaskan, gelaran Parade Indonesia Bermusik berlangsung selama 24 jam sebagai momentum puncak acara Hari Musik Nasional 2024.
Mahendra menuturkan, kebudayaan ikut menjadi bagian fondasi peradaban dan kekuatan sebuah bangsa.
Oleh sebab itu, Mahenda melanjutkan, musik sebagai bagian dari kebudayaan amat memiliki posisi penting untuk membangun Indonesia.
"Musik sebagai medium penyampai pesan melalui irama, lirik, nada, sehingga sarana membangun bangsa. Dari musik dapat menyuarakan nasionalisme, persatuan, serta manfaat-manfaat positif lainnya," terangnya.
Parade Indonesia Bermusik juga menarik perhatian para turis mancanegara, mereka terlihat gembira dan berjoged menyaksikan penampilan musik etnik tradisional.
Salah satu turis dari Kanada, Magdalena senang bisa melihat pertunjukan musik tradisional. Selama di Surabaya ia baru pertama melihat tampilan ini. "Saya sedang jalan -jalan tiba-tiba ada tampilan musik dengan jumlah banyak. Akhirnya saya melihat. Dan ternyata luar biasa bagusnya," tutur Magdalena.
Bagi Magdalena musik etnik di negaranya tidak ada. Bahkan ia terkejut ketika melihat musik etnik Daul dari Madura yang menggunakan alat musik tradisional mampu membuat irama musik yang sangat menarik.
"Musiknya (alat musik, Red) juga menarik. Dan baru pertama saya lihat," terangnya. (rmt/nur)
Editor : Nurista Purnamasari