Ekonomi Gresik Hobi & Lifestyle Jatim Mancanegara Nasional Olahraga Person of The Year Selebriti Sidoarjo Surabaya Tekno & Oto Wisata & Kuliner

Perankan Dewi Songgolangit, Mahasiswa Jerman Ini Terpukau Kebudayaan Indonesia

Rahmat Sudrajat • Jumat, 8 Maret 2024 | 02:19 WIB
KENALKAN BUDAYA: Madita Huschbeck, mahasiswa asal Jerman ini tampil dengan busana Dewi Songgolangit bersama para pemain Reog Ponorogo dalam kegiatan Surabaya Culture Odyssey di pelataran Balai Pemuda,
KENALKAN BUDAYA: Madita Huschbeck, mahasiswa asal Jerman ini tampil dengan busana Dewi Songgolangit bersama para pemain Reog Ponorogo dalam kegiatan Surabaya Culture Odyssey di pelataran Balai Pemuda,

RADAR SURABAYA – Budaya Nusantara memang sangat kaya. Berbagai daerah di Indonesia memiliki budaya dan cerita sejarahnya masing-masing.

Salah satunya yakni Ponorogo dengan kesenian Reog dan kisah Dewi Songgolangit.

Bahkan, Madita Huschbeck, mahasiswa asal Jerman ini terpukai akan keunikan dan keindahan kesenian Reog.

Madita juga berkesempatan memerankan tokoh Dewi Songgolangit dengan mengenakan pakaian tradisional lengkap dengan mahkota berwarna emas dan untaian Melati. Tampak sesuai dengan paras cantiknya.

Madita merasa senang dan kagum ketika memerankan Dewi Songgolangit yang merupakan salah satu tokoh dalam legenda rakyat Ponorogo.

Mahasiswa jurusan geografi tersebut baru pertama kalinya berdandan seperti itu. Bahkan ia juga ikut menari diiringi dengan Reog Ponorogo di pelataran Balai Pemuda Surabaya, Kamis (7/3) sore.

"Saya pikir ini tidak ada di Jerman. Apalagi tadi saya naik di atas reog. Wow, sangat menakjubkan. Tinggi sekali," kata Madita. 

Memilih berdandan sebagai Dewi Songgolangit karena keinginannya. Menurutnya busana tersebut terlihat menarik, apalagi sesuai dengan ceritanya Dewi Songgolangit memiliki arti menyangga langit. 

"Pertama kali saya memilih ini, langsung tertarik. Meski ada banyak opsi busana yang bisa digunakan. Tapi menurut saya ini yang cocok," terangnya.

Baginya berdandan ala tokoh dalam legenda rakyat menjadi pengalaman pertamanya. Apalagi diikuti dengan tarian reog Ponorogo.

"Ya ini tidak ada di Jerman dan daya pikat budaya di Jawa Timur ini sangat melekat. Sehingga saya terpukau," ungkap perempuan, 23 tahun itu.

Madita tak sendiri, ia bersama 33 mahasiswa dan satu dosen dari University of Marburg, Jerman datang ke Surabaya untuk mempelajari budaya.

Apalagi ia sudah seminggu di Indonesia, sebelumnya ia dan rekan yang lainnya, mempelajari budaya di Jakarta dan Surakarta.

"Saya baru seminggu di Indonesia dan pertama kalinya. Ternyata luar biasa budaya di Indonesia," tuturnya.

Kegiatan tersebut merupakan bagian dari inisiatif kolaboratif antara Universitas Airlangga (Unair) dan Wisma Jerman, yang telah merencanakan sebuah program edukasi dan pertukaran budaya yang mendalam bagi mahasiswa Jerman, yang disiplin ilmunya di bidang Geografi dan Antropologi. 

Menurut koordinator Surabaya Culture Odyssey (SCO), Probo Daroni Yakti, kegiatan ini bertujuan untuk memperluas wawasan dan pemahaman mereka mengenai kekayaan budaya Indonesia, khususnya melalui tradisi tari Reog Ponorogo.

"Kami memberikan pengalaman langsung kepada mahasiswa tentang keragaman dan kekayaan budaya lokal," kata Probo.

Selain itu juga mengintegrasikan mahasiswa Jerman dalam pengalaman kultural yang autentik.

"Mereka tidak hanya akan menyaksikan pertunjukan Reog Ponorogo saja tetapi juga akan memperoleh pengetahuan tentang nilai historis dan budaya yang terkandung di dalamnya," pungkasnya. (rmt/nur)

 

Editor : Nurista Purnamasari
#surabaya #Wisma Jerman #mahasiswa #jerman #Unair #budaya #dewi songgolangit #Surabaya Culture Odyssey