SURABAYA – THR IT Mall, sebuah ikon unik yang sempat berjaya di Surabaya yang dulunya bernama Hi Tech Mall sebagai pusat komputer, laptop dan handphone tersohor di Surabaya, kini kondisinya terlihat semakin memprihatinkan.
Meskipun telah lama menjadi magnet bagi para penggemar teknologi di kota ini, mall ini kini terlihat suram dan mengalami penurunan signifikan dalam hal pengunjung dan daya tarik.
Sebagai salah satu pusat perbelanjaan elektronik tertua di Surabaya, THR IT Mall telah memainkan peran penting dalam menghadirkan barang-barang yang berhubungan dengan elektronik sejak fungsinya diubah dari Taman Hiburan Rakyat (THR) menjadi pusat perbelanjaan barang elektronik.
Namun, gambaran saat ini tentang mall jauh dari kilau masa lalunya.
Kondisi fisik mall ini memperlihatkan tanda-tanda redupnya pesona ‘high tech’ yang sangat mencolok.
Alih-alih menyuguhkan kecanggihan teknologi, banyak pertokoan yang sebagian besar kosong, terlihat usang dan kurang terawat.
Beberapa toko bahkan telah jelas ditutup, dan yang masih bertahan terlihat sepi tanpa aktivitas signifikan. Koridor pertokoan yang dulu ramai dengan pengunjung dan pedagang, kini terkesan sunyi tanpa semangat.
Saat ini hanya ada satu dari total lima lantai di mall ini yang masih dioperasikan, yaitu lantai 2. Namun, akses lift maupun eskalator untuk menuju ke lantai bawah dan atasnya telah diblokade yang menandakan aktivitas perdagangan hanya berkutat di lantai itu-itu saja.
“Sekarang yang beroperasi cuma lantai ini saja, jadi ya setiap hari bertemu dengan orang ini-ini lagi,” ucap Robi, pegawai di salah satu toko elektronik di lantai 2 THR IT Mall.
“Memang sehari-harinya terlihat sepi, namun pasti ada pelanggan yang mampir ke sini,” imbuhnya.
Mayoritas pengunjung yang ditemui Radar Surabaya juga mengaku bahwa mall ini telah kehilangan daya tarik dan tidak lagi menjadi destinasi utama bagi para pemburu barang elektronik.
“Saya ke sini hanya jalan-jalan ingin melihat keadaan mall ini sekarang, ternyata memang sudah sepi, tak seramai dulu,” kata Huan yang sedang berjalan di lorong mall bersama temannya.
Salah satu faktor yang diduga mempengaruhi penurunan popularitas THR IT Mall adalah perubahan gaya hidup dan preferensi belanja masyarakat modern.
Dengan meningkatnya popularitas belanja online dan kehadiran pusat perbelanjaan modern yang menawarkan pengalaman belanja yang lebih nyaman dan beragam, mall ini mulai terpinggirkan.
Bahkan, pihak THR IT Mall harus memasang banner besar bertuliskan “THR IT MALL MASIH BUKA” untuk menjelaskan kepada masyarakat bahwa mall ini masih beroperasi dan layak untuk dijadikan sebagai rujukan berbelanja, terutama barang-barang elektronik.
Sebenarnya, langkah-langkah revitalisasi telah dilakukan oleh Pemkot Surabaya sejak penanganan gedung ini dikembalikan pengelolaannya ke pemerintah kota, termasuk investasi dalam perbaikan fisik bangunan dan promosi untuk meningkatkan kembali daya tarik mall. Namun memang belum adanya dampak yang signifikan pada ketertarikan masyarakat untuk kembeli ke mal ikonik ini. (mg3/rei/jay)
Editor : Jay Wijayanto