RADAR SURABAYA - Megengan merupakan salah satu tradisi masyarakat Jawa dalam menyambut datangnya bulan suci Ramadan.
Tradisi ini masih dilestarikan hingga saat ini. Termasuk oleh masyarakat Surabaya.
Pegiat Sejarah Surabaya Nur Setiawan mengatakan, umumnya tradisi megengan diawali dengan berziarah atau mendoakan keluarga yang sudah meninggal.
Kemudian warga saling membagikan makanan dan kue kepada saudara dan tetangga.
Umumnya, kue yang dibagikan adalah kue apem, nagasari, koci-koci dan sejenisnya.
“Yang wajib ada adalah kue apem. Secara filosofis kue apem merupakan simbol pengampunan atau mohon ampun dari berbagai kesalahan. Oleh karena itu, kue apem menjadi hidangan yang muncul dalam berbagai acara, mulai dari syukuran, menyambut datangnya bulan suci Ramadhan, hingga kematian,” tuturnya.
Selain membuat kue, masyarakat juga membuat masakan. Seperti opor, urap-urap hingga ayam bumbu.
Kue dan makanan itu nantinya dibagikan kepada tetangga sebagai bentuk syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa dan wujud syukur dipertemukan kembali dengan bulan Ramadan.
Selain dibagikan, beberapa warga lainnya kadang membawa makanan ke musala atau masjid untuk didoakan bersama sebagai wujud syukur.
Baca Juga: Muhammadiyah Tetapkan Awal Puasa Ramadan 2024 Jatuh Pada 11 Maret, Idul Fitri 10 April
Megengan sendiri akulturasi budaya di Pulau Jawa, yang konon diperkenalkan oleh Sunan Kalijogo.
“Di dalam tradisi Megengan masyarakat diajarkan untuk saling berbagi dalam bentuk makanan (sodakoh), mempererat hubungan antar sesama (kerabat, tetangga) dan syukur kepada Tuhan," ucapnya.
Dia menjelaskan, tradisi megengan masih dilestarikan sebagian besar warga Surabaya. Menurutnya, terkadang orang-orang Surabaya yang tinggal di tanah perantauan rela pulang kampung demi merayakan megengan dan sekadar berjumpa sanak dan famili.
"Hingga kini tradisi megengan masih bisa dijumpai di kampung-kampung Surabaya," tandasnya. (rus/nur)
Editor : Nurista Purnamasari