SURABAYA - Tidak mudah menjadi ekspatriat di Surabaya. Itulah yang dialami Ricker Winsor, guru bahasa Inggris asal Vermont, New England, Amerika Serikat (AS). Dia merasa kesepian karena masih jomblo di usianya yang sudah 65 tahun.
"Rekan-rekan saya di sekolah sangat ramah, tapi budaya orang-orang Indonesia terpusat pada keluarga dan mereka sibuk dengan keluarga mereka," kata Rick, sapaan akrab bule Amrik yang juga pelukis dan penulis buku itu.
Rick kemudian iseng mencari teman di situs IndonesianCupid. Ada respons dari seorang wanita Tionghoa Surabaya. Usianya 24 tahun lebih muda. "Kami janjian di Food Fest di Pakuwon City, tempat saya makan malam hampir setiap malam," katanya.
"Ibunya mengantarnya ke tempat kencan kami, jadi saya punya kesempatan untuk bertemu ibunya dan mengobrol. Beliau pamit dan bilang akan balik satu jam lagi untuk jemput putrinya. Menurut saya, itu hal bagus karena ibunya peduli dan ingin jadi bagian dalam sejarah kami."
Singkat cerita, Rick akhirnya berkenalan dengan Kwee Liang Yien. Wanita yang akrab disapa Jovita itu menginginkan pria yang “beriman, takut sama Tuhan, bertanggung jawab, baik, lembut.
“Wah, saya nggak yakin saya seperti itu tapi menurut saya keren sih kamu pingin laki-laki yang kayak gitu. Saat itu umur saya 65. Kalau dipikir-pikir, saya heran kenapa saya nekat sekali buat punya hubungan dengan orang yang 24 tahun lebih muda. Gimana masuk akal coba?" kenangnya.
Setelah pertemuan pertama itu, Rick kemudian apel rutin di rumah Jovita. Juga ikut kebaktian bersama di Gereja Bethany. Rick makin mengenal Jovita dan keluarganya. Termasuk operasi yang belum lama dijalani Jovita.
"Jovita kerja selama enam hari per minggu selama bertahun-tahum untuk membiayai anaknya dan biaya hidupnya dengan ibunya. Bersama dengan Grace, yang saat itu umur 16 tahun, mereka tidur bersama di ruangan kecil dengan jendela kecil," tutur Rick.
Banyak hal yang terjadi saat pacaran beda negara itu. Jovita punya beberapa benjolan di payudaranya. Sebelumnya, beberapa tumor rahim yang telah dioperasi, sekarang muncul lagi beberapa simtom. Kami pergi ke klinik onkologi.
"Saya berasal dari keluarga penderita kanker dan mengetahui lebih banyak tentang kanker daripada orang lain. Apa yang harus saya lakukan? Saya seorang guru, bukan orang yang kaya raya. Tapi saya punya rumah bagus di Vermont yang lumayan harga jualnya," kata Rick.
Akhirnya, Ricker membawa Jovita ke Amerika. Mereka menikah di Bradford, Vermont, di sebuah lapangan yang indah dipenuhi daun musim semi oleh hakim setempat.
"Kami tinggal di sana selama satu tahun, kemudian melakukan perjalanan ke Trinidad dan Tobago untuk kerja sebagai guru selama dua tahun. Kemudian tinggal di Bali selama dua tahun, dan akhirnya menetap di Surabaya, kota asal Jovita," tutur Ricker. (Nadiah/Helga/Shabil)
Editor : Lambertus Hurek