RADAR SURABAYA - Pemkot Surabaya terus tancap gas untuk mengatasai masalah stunting.
Meski capaian pengendalian stunting terus membaik, namun kasus stunting yang tersisa terus diatasi.
Pemkot Surabaya menargetkan stunting di Kota Pahlawan benar-benar nol kasus.
Wali Kota Surabaya Eri Cahyadi menuturkan, angka stunting tersisa 255 anak. Bahkan, ada 47 kelurahan dinyatakan zero stunting aktif.
“Semoga ini terus turun, 255 anak ini memang penyembuhannya agak sulit kaerna dia memiliki penyakit bawaan, seperti hidrosefalus dan penyakit bawaan lainnya," ujar saat memimpin kegiatan Rembuk Stunting di Graha Sawunggaling, Rabu (6/3).
Pemkot terus berupaya untuk menuntaskan sisa kasus tersebut. Misalnya, menggenjot dan menyamaratakan intervensi stunting. Utamanya seluruh warga yang beridentitas Surabaya.
"Untuk yang memiliki bawaan, pemkot akan menyembuhkan penyakitnya dulu atau minimal mengeliminasi dampak-dampaknya," tegasnya.
Langkah intervensi itu sudah terukur. Sebab, menurutnya, pemkot kesulitan untuk menekan stunting bagi mereka yang memiliki komorbid.
Tapi, Cak Eri tak berhenti berjuang untuk menuntaskan stunting hingga akhir masa jabatannya.
“Sebenarnya sulit kalau sudah ada penyakit bawaan seperti jantung, tapi nanti kita akan berusaha untuk mengeliminasi penyakit bawaannya dulu supaya tidak berdampak sangat besar, sehingga nanti berat badannya dan tinggi badannya bisa diupayakan naik,” kata Eri.
Selain itu, pemkot pun memonitor anak-anak yang bebas stunting. Tujuannya menjaga kondisi anak-anak sehingga tidak ada penambahan stunting lagi.
Cak Eri menegaskan, pemkot melakukan pencegahan dan penanganan dari hulu hingga hilir.
"Contohnya dengan memberikan zat besi kepada anak-anak perempuan yang sudah menstruasi. Jadi, kita berharap tidak ada lagi penambahan kasusnya supaya kita bisa berkonsentrasi kepada 255 anak yang masih stunting," bebernya.
Dia menjelaskan, akhir tahun lalu, ada 30 kelurahan dan 3 puskesmas yang sudah zero stunting.
Pencapaian itu terus mengalami perkembangan. Sekarang, terdapat tambahan 17 kelurahan dan 2 puskesmas yang nol kasus.
“Jadi, total sudah ada 47 kelurahan dan 5 puskesmas yang zero stunting. Kelurahan yang lain ayo kerja terus. Kita turun dengan niatan ibadah untuk menurunkan angka stunting. Saya yakin perjuangan teman-teman tidak akan pernah sia-sia," imbaunya.
Cak Eri mengapresiasi kepada lurah dan camat yang telah membantu Perangkat Daerah (PD).
Selain itu juga kepada pihak akademisi. Kolaborasi lintas sektor itu penting dalam mencetak generasi emas.
“Saya matur nuwun (terimakasih) kepada seluruh perguruan tinggi, karena penurunan stunting ini kami lakukan juga dengan para dokter-dokter dan fakultas kesehatan di Surabaya,” paparnya.
“Kita berkolaborasi untuk bersama-sama menurunkan angka stunting demi mencetak generasi emas bebas stunting,” imbuhnya. (hil/nur)
Editor : Nurista Purnamasari