SURABAYA - Tidak semua ekspatriat senang berwisata atau menikmati akhir pekan di kawasan pegunungan yang sejuk. Bule-bule itu justru lebih senang menikmati cuaca Kota Surabaya yang cenderung hangat dan lembab. Karena itu, Ricker Winsor mengaku sangat kerasan tinggal di Surabaya.
Lelaki asal New England, Amerika Serikat, itu menyebut Surabaya punya banyak kelebihan dibandingkan kota-kota lain yang pernah ia diami. Di antaranya, penduduknya yang ramah dan bersahabat. Kekerasan pun hampir tidak ada.
"People are nice. Very little violence and the cost of living is about 400% less than the USA. I am very adjusted to life here and love it," kata Ricker yang bekerja sebagai guru bahasa Inggris dan pelukis itu.
Biaya hidup di Surabaya jauh lebih murah ketimbang di Amerika Serikat. Lebih murah sekitar 400 persen ketimbang di negara Paman Sam itu. Juga masih lebih murah ketimbang biaya hidup di kota-kota besar negara lain.
Setiap tiga minggu sekali, Ricker bersama istrinya, Jovita, perempuan Tionghoa Surabaya, berakhir pekan di salah satu hotel di tengah Kota Surabaya. "Kami tinggal selama dua malam. Suasananya seperti museum," ujarnya.
Lelaki 78 tahun ini juga kerap memanfaatkan akhir pekan dengan melukis pemandangan alam di Surabaya. Salah satu objek kesukaannya adalah Pantai Kenjeran. "Sangat indah dan berkesan," kata Ricker. (rek)
Editor : Lambertus Hurek