Ekonomi Gresik Hobi & Lifestyle Jatim Mancanegara Nasional Olahraga Person of The Year Piala Dunia 2026 Selebriti Sidoarjo Surabaya Surabayapedia Tekno & Oto Wisata & Kuliner

Tak Cukup Mental Gagal Nyaleg hingga Stres. Begini Penjelasan Psikolog Unair Surabaya tentang Ciri-Ciri Caleg Stres

Rahmat Sudrajat • Kamis, 29 Februari 2024 | 12:57 WIB
Psikolog Universitas Airlangga, Atika Dian Ariana. (RAHMAT S/RADAR SURABAYA)
Psikolog Universitas Airlangga, Atika Dian Ariana. (RAHMAT S/RADAR SURABAYA)

RADAR SURABAYA – Tahapan Pemilihan Umum (Pemilu)2024 terus berjalan.

Saat ini, proses itu sudah masuk dalam tahap penghitungan suara.

Namun di tengah penghitungan suara masih ada calon legislatif yang sudah tidak bisa menerima kekalahan, karena tidak tercukupi suara untuk melenggang ke kursi DPR RI/DPRD kabupaten/kota.

Caleg yang tak bisa menerima hasil pemilu terkadang mengalami tak cukup mental, sehingga berdampak pada kesehatan mental atau stres.

Psikolog Universitas Airlangga, Atika Dian Ariana, mengatakan stres secara umum adalah persepsi ketika seseorang menghadapi situasi yang tidak dianggapnya tidak dapat diatasi dengan sumber daya yang dimilikinya.

Tekanan dan rasa malu itu muncul karena tidak terpenuhinya ekspektasi yang dimiliki sebelumnya.

Caleg yang gagal cenderung menarik kesimpulan negatif terhadap diri mereka sendiri.

Seperti merasa bahwa mereka tidak memiliki cukup kapabilitas atau kompetensi untuk berhasil dalam politik.

Belum lagi validasi lingkungan yang memberikan komentar negatif atau bullying.

"Persoalan yang begitu kompleks karena caleg nyatanya banyak melibatkan banyak pihak, mulai dari keluarga besar, partai politik, rekan kerja hingga tim sukses,” ungkap Atika, Rabu (28/2)

Ketakutan itu pun bisa bertambah jika pencalonan caleg menggunakan nilai material atau transaksi.

Atika menyebut, perasaan gagal dan penurunan harga diri sering kali dapat diatribusikan kepada persepsi individu tentang karakter pribadinya sendiri.

Lebih lanjut ia menjelaskan gejala seseorang yang sedang mengalami stres, yaitu perubahan pola makan, gangguan pola tidur, menarik diri dari lingkungan, perubahan perasaan sedih cemas yang signifikan dan respons fisik seperti gangguan pencernaan.

Selain itu, gejala kognitif cenderung pelupa banyak yang dipikirkan dalam satu waktu, sulit berkonsentrasi, dan kurangnya fokus.

Oleh karena itu penting dukungan sosial bagi kesehatan mental dalam keadaan buruk.

Diberi perhatian akan lebih memberikan rasa nyaman.

Lalu melakukan diskusi kecil dapat membantu mendapatkan perspektif berbeda sehingga menemukan solusi alternatif.

"Jika tekanan stres yang berlangsung terus-menerus tanpa penanganan yang tepat, dapat menyebabkan penurunan kesejahteraan mental yang signifikan seperti depresi," terangnya.

Strategi menjaga kesehatan mental dan fisik kurang lebih sama.

Pola makan sehat, tidur yang cukup, latihan fisik olahraga, mengenal diri sendiri dengan lebih baik dapat membantu memahami kebutuhan, sadari batasan dalam diri, dan dukungan sosial yang tepat.

Sebagai anak muda diimbau untuk proaktif dalam mencari teman dan lingkungan yang sehat.

Luangkan waktu untuk refleksi dan evaluasi diri secara berkala.

“Merawat diri dan menjaga kesehatan mental adalah hal yang sangat penting untuk kesejahteraan kita. Jika belum bisa memulihkan diri, sangat disarankan meminta bantuan profesional, seperti psikolog atau psikiater. Tidak tinggal diam dalam keterpurukan, karena itu bentuk wujud mencintai diri sendiri,” pungkasnya. (rmt/opi)

Editor : Nofilawati Anisa
#psikolog #ciri ciri caleg stres #caleg stres #Caleg Stres Pasca Pemilu 2024 #universitas airlangga