RADAR SURABAYA – Pemerintah Kota (Pemkot) Surabaya berkomitmen menekan kekerasan dalam keluarga.
Pihaknya mendorong mulai tingkat kelurahan yang ramah perempuan dan anak.
Sekaligus mengajak peran Rukun Warga (RW) responsif gender.
Kabid Pengarusutamaan Gender dan Hak Anak (PUGPHA) Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak serta Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana (DP3APPKB) Kota Surabaya Relita Wulandari mengatakan, pihaknya menggelar kegiatan komunikasi bersama berbagai lapisan.
Itu adalah bagian dari forum gabungan lintas sektor.
Program itu melalui Forum Partisipasi Publik untuk Kesejahteraan Perempuan dan Anak (Puspa).
“Puspa adalah wadah atau tempat sarana bersinergi bagi pentahelix, media, pengusaha, pemerintah, akademisi, ormas. Kita bersama-sama memikirkan, mewujudkan gerakan-gerakan apa, supaya Surabaya ramah perempuan dan peduli anak,” ujarnya, Rabu (21/2).
Kata dia, forum tersebut akan lebih proaktif.
Mereka bakal terjun langsung ke kampung-kampung.
Praktiknya menyasar tiap balai RW se-Surabaya.
"Sosialisasi soal pencegahan kekerasan termasuk kesetaraan gender," ucapnya.
Targetnya kegiatan itu berlangsung selama 10 bulan.
Dia menyampaikan, langkah itu sebagai upaya preventif, pencegahan.
Pihaknya mengajak perangkat di tiap kampung untuk melancarkan program forum tersebut.
"Selama 10 bulan kami akan turun, karena kami sifatnya preventif, pencegahan, kita akan turun ke 1.360 RW. Siapa audiens, RT dan RW, nanti bertemu 10 bulan dengan 12 ribu orang yang kita beri tahu masalah tentang bagaimana perempuan bisa berdaya, tidak menjadi korban kekerasan, tidak terjadi perkawinan anak. Kemudian bagaimana perempuan mau mengambil peran atau pemimpin di lingkungannya, enggak hanya bagian konsumsi," urainya.
Relita mendorong peran tiap RW maupun RT makin aktif.
Yaitu, mereka bisa mengambil sikap untuk memberdayakan perempuan di sekitarnya.
Dia menilai, langkah strategis tersebut mampu menekan kasus kekerasan yang masih terjadi di Kota Surabaya.
“Perlindungan anak. Pemberdayaan perempuan seperti apa, ya supaya perempuan berdaya, paling tidak punya keterampilan, keahlian, sehingga bisa mandiri secara finansial,” tuturnya.
Pihaknya mengajak warga untuk meningkatkan gotong-royong.
Tujuannya agar mereka saling peduli dengan warga yang lain.
Sehingga tidak ada lagi warga dalam satu RT acuh terhadap kekerasan yang terjadi di sekitarnya, termasuk dalam keluarga.
"Kita berusaha, kalau Pak RT tahu, disosialisasikan ke warga dan segera lapor dan kita menangani. Yang penting cepat diketahui dan ditangani," terangnya.
Dia memastikan, Pusat Pembelajaran Keluarga (Puspaga) di setiap RW terus berjalan.
Kata dia, program tersebut sudah bekerja maksimal.
Kendati sudah optimal, pihaknya memerlukan langkah preventif dan pencegahan.
"Tetap perlu kegiatan lain untuk memperkuat pencegahan kekerasan di Surabaya. Kalau ada satu, dua kekerasan, ya, penduduknya berapa juta, mangkanya kita diharapkan dengan turun, warga tahu ada korban kekerasan bisa melaporkan. Ya, itu ada UPTD dan nomor yang kita share, jadi tahu harus ke mana," imbuhnya. (hil/opi)
Editor : Nofilawati Anisa