RADAR SURABAYA – Pemerintah Kota (Pemkot) Surabaya sudah memberlakukan pembayaran tarif parkir nontunai awal Februari lalu.
Sepekan kebijakan tersebut berjalan, masyarakat tengah beradaptasi.
Dinas perhubungan (dishub) terus mengevaluasi program itu.
Kepala Dishub Kota Surabaya Tundjung Iswandaru memonitor kebijakan itu sejak dimulai serentak di 322 titik dari ribuan lokasi yang sudah dipetakan.
Praktik di lapangan, pihaknya tidak menemukan kendala.
Namun, mayoritas pengguna jasa parkir masih membayar secara tunai.
"Kita menilai masyarakat juga perlu beradaptasi dengan peralihan tunai ke nontunai," ujarnya, Rabu (7/1).
Ada sejumlah warga memilih membayar parkir secara tunai.
Sebab, sebagian mereka belum terbiasa membayar menggunakan QRIS. Terutama orang tua.
"Tahap awal memang kita berikan skema ini (tunai, Red)," ucapnya.
Kata dia, skema tunai untuk sementara waktu itu sudah disepakati bersama.
Namun, pemkot memastikan parkir nontunai berjalan bertahap.
Tundjung menegaskan seluruh titik akan memberlakukan parkir nontunai.
"Nanti selurugnya pakai QRIS, perlu waktu," ungkapnya.
Dishuh memiliki upaya persuasif untuk mendorong peralihan menuju kebijakan parkir nontunai.
Saat ini, pihaknya menggencarkan sosialisasi pemakaian voucer pengganti uang tunai.
Rencananya akan menambah titik penjualan voucer.
"Sementara masih Taman Bungkul dan area Balai Kota Surabaya," tutur Tundjung.
Dia berencana menambah delapan titik baru.
Totalnya akan menjadi 10 lokasi penjualan voucer parkir.
Menurutnya, cara tersebut memberikan kemudahan pengguna parkir tepi jalan umum mendapatkan alat pembayaran yang sudah ditentukan pemkot.
"Karena kita ingin menghapus pembayaran parkir tunai. Voucer ini pengganti uang tunai, jadi mereka secara perlahan mulai beradaptasi dengan metode pembayaran selain uang. Bertahap dari voucer kemudian terbiasa menggunakan QRIS," terangnya.
Sementara itu, Kepala UPT Parkir Dishub Kota Surabaya Jeanne Mariane Taroreh menyebutkan hal senada.
Dia masih mendapatkan laporan bahwa masih banyak warga yang membayar parkir secara tunai.
Tapi untuk persentasenya masih dihitung.
"Lebih banyak tunai. Persentasenya sedang kami telaah," katanya.
Jeanne menuturkan, saat ini penambahan titik penjualan voucer masih dimatangkan dan ada beberapa usulan lokasi penjualan.
Terutama di fasilitas publik yang sering dipakai warga berkumpul.
Misalnya taman, terminal, atau fasilitas lain seperti tempat keramaian.
"Teknisnya, dishub akan menyerahkan voucer itu ke toko atau kios yang ditunjuk. Ini masih dimatangkan sambil menunggu evaluasi QRIS," imbuhnya. (hil/opi)
Editor : Nofilawati Anisa