RADAR SURABAYA – Masih banyaknya penderita polio membuat kita harus meningkatkan kewaspadaan.
Apalagi muncul varian baru yang merupakan hasil evolusi polio sejak berabad-abad lalu.
Menurut Pakar Paleoantropologi Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) Universitas Airlangga (Unair) Prof Dr Phil Toetik Koesbardiati, dalam poradaban manusia, polio sebenarnya sudah ada sejak lama.
“Polio sejak zaman dahulu sudah terdeteksi di Mesir, abad ke-16,” kata Prof Toetik, Rabu (7/2).
Keberadaan polio, kata Prof Toetik, terbukti dari penggalian kuburan kuno di Inggris abad keempat.
Saat itu terdapat penemuan sisa rangka manusia yang menurut dugaan adalah menderita penyakit polio.
“Ada tanda-tanda ketidaksimetrisan tungkai bawah dan patologi tulang punggungnya,” terang Guru Besar Unair itu.
Seiring perkembangan peradaban manusia, polio juga mengalami evolusi.
Faktor yang memengaruhi evolusi ini antara lain adalah perubahan iklim global.
“Perubahan iklim berpengaruh terhadap evolusi ini. Akibatnya, virus bermutasi dengan variasi ekologi,” tuturnya.
Budaya dan cara hidup manusia yang terus berkembang dari masa ke masa, juga berpengaruh terhadap evolusi penyakit polio.
“Budaya itu terus berkembang sehingga membentuk masyarakat sekarang namun tetap sedenter. Perubahan ini berkaitan dengan temuan makanan, perkembangan hunian, dan ekspansi,” jelas dia.
Dengan kata lain, budaya hidup manusia terus berkembang seiring dengan upaya pemenuhan kebutuhan hidup yang lebih baik.
Akan tetapi, dampaknya, manusia lebih eksploitatif terhadap bumi sehingga mengakibatkan rusaknya ekologi termasuk pemanasan global.
“Pemanasan global menjadikan banyak es mencair, membangkitkan banyak virus, bakteri, dan parasit. Contoh dampak mencairnya es dan munculnya patogen adalah ketika terjadi kasus Antraks di Siberia,” paparnya.
Oleh karena itu, menurut Prof Toetik, perlu pendekatan holistik.
Pemerintah dan masyarakat perlu melakukan kolaborasi dalam menanggulangi infeksi penyakit ini.
Itu semua, sambungnya, bisa dilakukan dengan memulai menerapkan hidup sehat, mencegah kerusakan lingkungan, dan menerapkan kerangka pikir kesehatan global.
“Pendekatan holistik dalam kerangka pikir global health perlu diperhatikan. Mengingat polio bisa menyerang melalui mobilitas manusia dengan konteks lingkungan yang berubah,” pungkasnya. (rmt/opi)
Editor : Nofilawati Anisa