SURABAYA - Hujan deras yang mengguyur Surabaya sejak Senin (5/2) malam hingga Selasa (6/2) dini hari menyebabkan sejumlah kawasan terendam banjir. Ketinggian bervariasi hingga 50 cm.
Data dari Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Surabaya menyebutkan, 23 wilayah terendam banjir.
Wilayah Surabaya Barat seperti Pakal, Benowo, dan Tambak Osowilangon menjadi daerah terdampak paling parah.
Ketinggian air di kawasan Surabaya Barat mencapai 50 cm. Kondisi tersebut terpantau di depan Perumahan Pondok Benowo Indah dan Terminal Tambak Osowilangun.
Banjir tak hanya membuat aktivitas warga terganggu. Arus lalu lintas di sejumlah kawasan macet.
Kemacetan terjadi di kawasan Branjangan, Benowo hingga Pakal.
Bahkan, akibat kemacetan parah ini, sejumlah pekerja terpaksa tidak masuk kerja. Hujan deras yang terjadi di Surabaya juga mengakibatkan sejumlah pohon dan alat peraga kampanye tumbang.
Untuk mengatasi banjir ini, Pemkot Surabaya mengerahkan 18 unit Damkar guna melakukan penyedotan air. Upaya penyedotan berlangsung hingga pukul 03.00.
Kabid Drainase DSDABM Kota Surabaya Windo Gusman Prasetyo mengatakan, pihaknya telah melakukan survei terkait banjir yang terjadi di sejumlah titik.
Misalnya, di Jalan Raya Benowo tergenang air hingga mengakibatkan kemacetan panjang.
"Kalau (banjir) di Benowo karena ada penyempitan saluran. Ada pembangunan SMP Wachid Hasyim membuat akses jalan di saluran air dengan dimensi 100x100, " kata Windo kemarin.
Menurut dia, DSDABM sudah mengerahkan alat berat eskavator untuk mengangkat akses pembangunan sekolahan tersebut karena menghambat aliran air.
"Ini sudah proses pengangkatan monolit akses pembangunan SMP Wachid Hasim," ujarnya.
Tidak hanya di Branjangan, kemacetan panjang juga terjadi di wilayah Margomulyo. Jalan yang tergenang air menjadi penyebab utama kemacetan.
Windo menambahkan, banjir yang melanda Manukan Lor karena masih adanya pengerjaan saluran yang belum selesai.
"Yang di Manukan Lor karena tumpahan dari Manukan Rejo. Air dari atas lari ke Manukan Lor sekitar area depan Manukan Rejo. Kalau yang atas memang belum selesai pembangunannya," kata Windo.
Ketua LPMK Asemrowo Moch Widodo mengungkapkan, ada lima titik banjir di wilayah Asemrowo, yakni Tambak Pring Timur, Tambak Dalam Baru, Tambak Pring Barat Blok D, Tambak Mayor Utara, dan Asem Mulya.
Menurut dia, banjir yang menerjang wilayah Asemrowo bukan hanya karena curah hujan yang tinggi, tapi juga oleh faktor lainnya.
"Asemrowo ini sangat membutuhkan outlet saluran yang langsung menuju ke laut. Kalau tidak ada outlet, maka selamanya Asemrowo langganan banjir," terang Widodo.
Pihaknya berharap pemkot menaruh perhatian serius terhadap masalah banjir di wilayah Asemrowo. Sebab, sejak bertahun-tahun lalu, Asemrowo selalu dihantui oleh banjir.
"Saya berharap pemkot segera mengambil tindakan konkret. Kita bukan bicara 5-10 tahun, tapi 30 tahun ke depan," tegas Widodo. (hil/rek)
Editor : Jay Wijayanto