Ekonomi Gresik Hobi & Lifestyle Jatim Mancanegara Nasional Olahraga Person of The Year Selebriti Sidoarjo Surabaya Tekno & Oto Wisata & Kuliner

Penerapan Parkir QRIS di Surabaya Belum Bisa Dilakukan Serentak, Ini Penyebabnya

Jay Wijayanto • Jumat, 2 Februari 2024 | 16:08 WIB
MULAI DICOBA: Petugas Dinas Perhubungan (Dishub) Surabaya membagikan kode QRIS kepada jukir di Jalan Tunjungan, Surabaya, Kamis (1/2).
MULAI DICOBA: Petugas Dinas Perhubungan (Dishub) Surabaya membagikan kode QRIS kepada jukir di Jalan Tunjungan, Surabaya, Kamis (1/2).

SURABAYA - Pemkot Surabaya resmi memberlakukan pembayaran parkir nontunai kemarin (1/2). Namun, kebijakan itu dilaksanakan secara bertahap. Dari total 1.370 titik parkir tepi jalan umum (TJU) hanya ratusan saja yang nontunai.

Kepala Dinas Perhubungan (Dishub) Kota Surabaya Tundjung Iswandaru mengalungkan barcode QRIS kepada salah seorang juru parkir (jukir).

Itu menandai bahwa kebijakan pembayaran parkir nontunai berjalan. Tapi belum semua titik parkir TJU berlaku aturan yang sama.

"Saat ini pembayaran parkir via QRIS di 10 kawasan," ujar Tundjung Iswandaru, Kamis (2/1).

Jumlah itu jauh dari target awalnya. Sebab, 10 kawasan itu terdiri dari 36 ruas jalan. Artinya, masih sekitar 322 titik saja.

"Ruas jalan ini, di antaranya, Jalan Tunjungan, Embong Malang, Bubutan, Semarang, Genteng, Blauran, Tanjunganom, Kedungdoro, Tidar, dan tempat lainnya," ucapnya.

Dia menegaskan, target awal akan tetap berjalan. Namun, dishub mengaku penerapan kebijakan tersebut bertahap. Totalnya 1.370 titik akan bertransformasi ke pembayaran nontunai.

CANGGIH: Seorang jukir menunjukkan voucer dan kode QRIS di Jalan Tunjungan.
CANGGIH: Seorang jukir menunjukkan voucer dan kode QRIS di Jalan Tunjungan.

“Jadi, sekarang masih kita berlakukan di 36 ruas jalan. Sambil ini bertahap dan kita evaluasi terus. Targetnya seluruh jalan se Surabaya pakai QRIS,” kata Tundjung.

Dia pun menjelaskan, saat ini baru 378 jukir yang menerapkan pembayaran via QRIS. Mereka adalah jukir-jukir yang sudah melengkapi administrasinya dalam pengurusan barcode. Totalnya ada 2.300 jukir.

“Semuanya ini bertahap. Mereka tinggal melengkapi administrasinya lalu bisa menerapkan ini,” tuturnya.

Hingga sekarang, Tundjung membenarkan masih ada pengguna yang belum paham tentang aturan baru tersebut. Pihaknya pun menyiapkan langkah transisi. Dishub masih memfasilitasi warga dengan pembayaran tunai dan harus dengan karcis.

Baca Juga: Tahun Ini, Kunjungan Kapal Pesiar di Surabaya Diperkirakan Naik 75 Persen, Ini yang Dilakukan Pelindo Regional 3

“Jadi, di masa transisi ini masih bisa bayar tunai dan ada karcisnya. Tetapi selanjutnya sambil kita lakukan evaluasi untuk menggunakan QRIS ini,” terangnya.

Tundjung juga memastikan bahwa program pembayaran parkir dengan QRIS sudah didukung oleh semua jukir se-Surabaya. Pasalnya, upaya itu pun untuk menyejahterakan mereka.

Sekaligus untuk meningkatkan pendapatan asli daerah (PAD) Kota Surabaya. "Ini juga menjawab permintaan warga yang mendukung transformasi skema pembayaran parkir nontunai," jelasnya.

Sementara itu, Ketua Umum Paguyuban Juru Parkir Surabaya (PJS) Izul Fiqri memastikan seluruh jukir se-Srabaya sudah menyetujui penerapan pembayaran parkir melalui QRIS.

Kendati persetujuannya itu dengan sejumlah catatan. Salah satunya terkait kesejahteraan jukir itu sendiri.

“Catatan yang paling utama adalah kesejahteraan juru parkir Surabaya,” kata Izul saat ikut peresmian di Jalan Tunjungan.

Dia pun memastikan bahwa paguyuban juru parkir itu sudah berkomitmen untuk mendukung program tersebut. Bahkan, dia mengaku sudah memberikan arahannya kepada seluruh jukir untuk terus berkalung barcode.

Menurutnya, kebijakan itu harus terus dievaluasi. “Seluruh jukir kami pastikan berkalungkan QRIS. Jadi, masyarakat diberikan pilihan. Yang mau scan silakan dan yang tidak siap dengan ini (QRIS, Red) silakan pakai tunai dengan karcis. Ini tentu akan menjadi evaluasi kita ke depannya,” pungkasnya. (hil/rek)

Editor : Jay Wijayanto
#Tepi Jalan Umum #parkir #dishub surabaya