SURABAYA - Di tengah gemuruh kota Surabaya yang modern, terdapat sebuah komunitas pecinta sejarah yang berperan besar dalam memelihara dan mempromosikan warisan berharga Indonesia, yakni kereta api.
Indonesian Railway Preservation Society (IRPS) berdiri sejak 25 Juni 2002. Komunitas ini memiliki asal usul yang cukup unik karena dulu bernama Friends of CC200 yang diadopsi dari jenis lokomotif CC200.
“Kami (IPRS) sebelumnya memang tidak langsung membentuk organisasi yang terstruktur seperti sekarang. Awal namanya masih Friends of CC200, karena kami hanya komunitas yang mencintai sejarah tentang kereta api,” ungkap Rizky Nur Adrianto, Ketua IRPS Wilayah Surabaya saat ditemui, Selasa (30/1).
CC200 menjadi inspirasi dari komunitas anak muda ini karena saat itu adalah jenis lokomotif diesel elektrik pertama yang beroperasi di Indonesia pada kurun 1955-1957. Itu pun pada tahun 2002 saat komunitas ini dibentuk, jumlah lokomotifnya hanya tersisa tiga unit dengan kondisi yang sudah terbengkalai dan hampir tidak bisa jalan.
Kemudian di tahun 2002, secara resmi nama CC200 diubah menjadi Indonesian Railway Preservation Society (IRPS) yang berpusat di Jakarta. Saat itu, IRPS langsung membangun mitra dengan PT. KAI selaku BUMN yang mengurusi perkeretaapian di bawah kordinasi dengan Kementerian Perhubungan.
Seiring berjalannya waktu, keanggotaan IRPS berkembang dan kini telah menyebar ke beberapa kota di Indonesia seperti Surabaya, Jakarta, Bandung, Semarang, Yogyakarta, Purwokerto, Cirebon dan Sumatera Barat.
Rizky menceritakan, di awal berdiri, IRPS atau CC200 belum melakukan kegiatan yang intens. Mereka bahkan sempat istirahat cukup lama dipicu dari pembendaharaan yang masih belum kondusif dan tanggungjawab keluarga dan pekerjaan dari masing-masing pengurus dan anggota.
“Ya, alasan krusial saat itu karena rata-rata dari kami sudah berkeluarga dan bekerja, sehingga minim untuk berkegiatan di komunitas. Terus terang juga, mencintai kereta api itu membutuhkan anggaran yang besar, jadi kami memulihkan pembendaharaan dulu untuk ke depan,” tuturnya.
Hingga kemudian, mereka mulai aktif kembali pada awal tahun 2022 hingga saat ini. Salah satu keunggulan IRPS wilayah Surabaya adalah dedikasinya dalam pemeliharaan dan restorasi kereta api di kawasan Jawa Timur.
Tim sukarelawan yang berkompeten dan bersemangat di bawah naungan PT. KAI telah berhasil merestorasi beberapa kereta api bersejarah untuk memastikan bahwa keindahan dan keandalan kereta tetap dijaga dengan baik.
“Seperti halnya kereta diesel elektrik itu (CC200), kami kulik sejarahnya, yang pada 2002 sisa tiga unit seri CC200 08, CC200 09 dan CC200 15 dengan kondisi yang terbengkalai, tidak bisa jalan. Untung CC200 15 masih sehat dan dapat dihidupkan kembali dengan mengorbankan komponen CC200 08 dan 09,” jelasnya.
Tak hanya itu, IRPS juga berperan dalam restorasi beberapa sarana transportasi kereta api. Seperti pengecetan corong lokomotif uap, pemeliharaan turnable zaman Belanda di Stasiun Mojokerto dan pemindahan sinyal Krian dari Bondowoso ke Stasiun Krian serta banyak lagi.
Tak hanya restorasi, IRPS Surabaya juga aktif dalam kegiatan pendidikan dan penyuluhan lokal. Melalui kerja sama dengan sekolah setempat, mereka menyelenggarakan workshop, presentasi, dan tur ke museum untuk mengenalkan sejarah kereta api kepada generasi muda.
IRPS juga menggelar acara bersejarah yang menarik perhatian masyarakat. Misalnya pameran kereta api antik, demonstrasi restorasi dan peragaan kereta api model lama.
Hal ini dimaklumi karena IPRS memiliki salinan dokumen asli tentang sejarah kereta api mulai dari corak standar warna kereta, hingga skema model kereta api yang masyarakat umum tidak dapat menyentuhnya sembarangan.
Acara ini sukses menghidupkan kembali nostalgia era perkeretaapian di Indonesia. Sekaligus memupuk rasa cinta generasi muda terhadap warisan budaya bangsa dan edukasi tentang transportasi perkeretaapian di kalangan anak-anak.
“Untuk menjaga hubungan baik biasanya kalau PT. KAI punya acara, IPRS juga diundang untuk hadir. Selain itu juga kolaborasi kita yang masih harus terus dijalankan dengan PT. KAI. Begitu juga ketika IPRS memiliki ide tentang pemeliharan kereta, kami juga melibatkan PT. KAI untuk berkolaborasi,” terang Rizky Nur Adrianto.
Atas kontribusinya, IRPS meraih sejumlah penghargaan dalam pelestarian warisan kereta api. Salah satunya yang monumental adalah penghargaan rekor MURI pada 2023 untuk pembuatan miniatur skala 1:4 lokomotif uap terbesar di Indonesia yakni DD5208 bekerja sama dengan PT. KAI dan 3D Zaiku.
“IPRS Wilayah Surabaya ikut andil dalam proyek besar dan membanggakan itu. Ya lumayan besar miniaturnya, kami bikin detail, ukuran miniatur lokomotif uap DD52 ini memiliki dimensi panjang 580 sentimeter, lebar 68 sentimeter dan tinggi 90 sentimeter, serta total bobot 200 kilogram,” terang Rizky Nur Adrianto.
Kini miniatur lokomoif uap legendaris yang dijuluki “si Gombar” itu telah kembali ke tempat asalnya di Stasiun Garut, Jawa Barat sebagai bagian dari edukasi masyarakat dan menjadi karya seni pameran milik IRPS dan PT. KAI.
Sebelumnya, miniatur lokomotif ini sudah berkeliling ke beberapa daerah di wilayah operasi KAI di Pulau Jawa. Yakni di Museum Lawang Sewu Semarang pada Juli 2023, Stasiun Surabaya Gubeng pada Agustus 2023, Stasiun Yogyakarta Tugu pada September 2023 dan Stasiun Bandung pada November 2023.
Proyek terkini IRPS, jelas Rizky, adalah merestorasi sebuah gerbong penumpang klasik di museum kereta api local yang masih dirahasiakan namanya. (mg1/gus/jay)
Editor : Jay Wijayanto