Ekonomi Gresik Hobi & Lifestyle Jatim Mancanegara Nasional Olahraga Person of The Year Piala Dunia 2026 Selebriti Sidoarjo Surabaya Surabayapedia Tekno & Oto Wisata & Kuliner

Kasus Kekerasan pada Anak Meningkat di Surabaya, Cak Eri Ingin Hidupkan Lagi Asrama Sekolah Bibit Unggul

Hildan Sepka • Selasa, 30 Januari 2024 | 01:35 WIB
DIGEMBLENG: Bekas asrama anak asuh bibit unggul di Vila Kalijudan, Surabaya.
DIGEMBLENG: Bekas asrama anak asuh bibit unggul di Vila Kalijudan, Surabaya.

SURABAYA - Tren kasus kekerasan kepada anak kembali meningkat. Hal itu menjadi perhatian Wali Kota Surabaya Eri Cahyadi.

Pejabat yang akrab disapa Cak Eri itu pun berencana kembali menghidupkan asrama Sekolah Bibit Unggul untuk para peserta didik.

Menurut dia, sekolah itu menyasar anak berprestasi dan kurang mampu. Khususnya mereka yang menjadi korban kekerasan.

Tujuan asrama sekolah bibit unggul untuk memastikan kebutuhan pendidikan anak-anak terpenuhi.
“Kita akan bangun di dekat Liponsos Kalijudan. Dulu kan (asrama sekolah bibit unggul) di Liponsos itu,” ujar Cak Eri.

Komitmennya itu sekaligus bentuk perlindungan untuk anak-anak. Dia memastikan, para korban akan menjadi tanggung jawab pemkot.

Bahkan, hingga mereka menempuh jenjang pendidikan tertinggi.

“Anak-anak Surabaya yang punya prestasi. Jadi, yang punya prestasi, anak-anak kemarin (korban kekerasan, Red) seperti habis disiksa ibunya dimasukkan situ. Sehingga kita bisa kontrol psikisnya agar kembali normal. Daripada diambil ibunya dan disiksa lagi. Kalau ibunya gak bisa jaga ya, di situ dan psikisnya terbentuk dengan baik,” ungkapnya.

Menurut dia, sekolah bibit unggul di Kota Pahlawan sebetulnya sudah ada.

Namun, para siswanya tidak berada dalam lingkungan asrama. Kebijakan itu diharapkan memberikan kenyamanan dalam menempuh pendidikan.

”Ini mau kita hidupkan asramanya, agar bisa mengontrol dan memberikan pembelajaran lebih bagus lagi. Khususnya bagi anak-anak Surabaya yang memiliki prestasi,” bebernya.

Anak-anak yang tinggal nantinya akan disekolahkan sampai SMA, bahkan kuliah di perguruan tinggi negeri.

Sedangkan fungsi asrama untuk mengasah bakat anak. Selain itu, membentuk karakter, mental, dan difasilitasi agar menjadi orang sukses.

"Sekolah biasa, tetap SMA. Tapi asrama di situ. Modelan seperti sekolah anak negeri. Mau tak hidupkan lagi," tegas Eri.

Salah satu alumnus Sekolah Bibit Unggul yang kini menjadi Kepala Bagian Pengadaan Barang/Jasa dan Administrasi Pembangunan Kota Surabaya Ali Murtadlo mengatakan, di asrama saat itu benar-benar difokuskan untuk belajar.

Tempat itu didominasi anak tidak mampu. Termasuk, mereka yang berprestasi berdasarkan hasil seleksi.

"Dulu saya di sekolah bibit unggul sejak SMA, diambil dari anak-anak yang tidak mampu, tapi punya kemampuan dalam ilmu pelajaran. Dites matematika, kimia, fisika, tapi orang tua tidak mampu menyekolahkan, itu yang diambil," kata Ali.

Ali menceritakan, pembinaan di sekolah bibit unggul seperti semimiliter. Anak-anak dididik disiplin, giat belajar, dan memiliki semangat tinggi dalam menggapai apa yang diimpikan.

Menurut dia, hal itu yang membentuk karakter dan mentalnya sekarang.

"Kalau di asrama dilokalisir, semimiliter. Bangun sebelum subuh, apel, disiplin tinggi, makan bersama, waktu belajar ya belajar. Disuruh belajar, fasilitas disiapkan semua, pakaian, makan, sekolah, diantar jemput, mikir belajar saja," ceritanya.

Sekolah bibit unggul tersebut, kata dia, hanya diisi oleh anak-anak SMA hingga kuliah saja. Sedangkan SD dan SMP tetap di rumah. Tapi dibiayai oleh Pemkot Surabaya.

"Saya sampai kuliah selesai dan kuliah harus negeri semua, enggak boleh swasta. Tempatnya di Vila Kalijudan, bangunan sekarang dipakai Liponsos," katanya. (hil/rek)

Editor : Jay Wijayanto
#sekolah bibit unggul #asrama #kekerasan anak #wali kota surabaya #Eri Cahyadi