SURABAYA - Pemkot Surabaya memberi atensi khusus pada kasus kekerasan pada anak belakangan ini. Wali Kota Surabaya Eri Cahyadi memastikan perlindungan dan pendampingan berjalan.
Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak serta Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana (DP3APPKB) menyiapkan sejumlah langkah strategis.
Cak Eri mengatakan, pencegahan kasus kekerasan dan asusila merupakan tanggung jawab bersama.
Dia meminta bantuan warga untuk menekan potensi tersebut. Pemkot sudah menyampaikan kepada RT dan RW untuk menjaga kampung masing-masing.
"Termasuk membangun empati antar sesama. Ini pentingnya pembangunan SDM," ujar Cak Eri, Jumat (26/1).
Sejumlah kebijakannya untuk menguatkan peran masyarakat sudah berjalan. Salah satunya melalui pembentukan kampung madani. Total saat ini ada 15 kampung.
"Program ini mendorong partisipasi warga untuk wilayahnya. Dengan ini kekuatan gotong-royong terbentuk, sehingga warga saling membantu sesama warga yang kesulitan," ungkapnya.
Orang nomor satu di Surabaya itu meminta jajarannya untuk aktif turun mendengar keluhan warga. Sekaligus membantu untuk menyelesaikan persoalan yang ditemukan.
Pemkot pun telah menyediakan pusat pembelajaran keluarga (puspaga) di kecamatan. "Program ini juga penting bertujuan membantu warga yang memiliki persoalan," paparnya.
Kebijakan yang lain adalah fasilitas selter dan pendampingan korban pelecehan seksual. Pemkot sudah memiliki selter. Tempat tersebut dilengkapi konselor yang mendampingi korban selama 24 jam.
"Kita memberikan intervensi bantuan pendidikan untuk korban. Pemkot menjamin pendidikannya hingga kuliah dan berhasil. Ada korban yang didampingi pemkot alhamdulillah saat ini sudah sukses," ucap Cak Eri.
Dia mencontohkan dua anak yang mendapatkan pendampingan pemkot. Mereka korban kekerasan seksual. Terbukti, kebijakannya berbuah manis.
"Satunya mendapat beasiswa kuliah di Universitas Airlangga (Unair). Saat ini bekerja menjadi konsultan. Ada juga penyintas yang berhasil bekerja di maskapai penerbangan," jelasnya.
Sementara itu, Kepala Dinas DP3APPKB Surabaya Ida Widayati gerak cepat (gercep) menyentuh korban kekerasan yang dilakukan oleh ibunya.
Penanganan tahap awal, pihaknya belum menemukan tanda trauma. Kendati potensi trauma tertunda itu terlihat karena korban tidak menunjukkan sedih atau syok.
“Dilihat fisik, anak ini kuat banget, tidak nangis. Saya tanya apakah dia bisa tidur, bermimpi atau mengingat perlakuan ibunya, katanya kadang-kadang. Dia hanya tidak bisa tidur karena sakit,” beber Ida.
Menurut dia, kondisi tersebut perlu pengawasan mendalam. Sehingga, pihaknya menerjunkan pendamping dari psikolog dan psikiater.
Pendampingannya berjalan seiring proses pemulihan fisik korban. "Bahaya, ini bisa jadi trauma tertunda yang bisa dilampiaskan di kemudian hari,” terangnya.
Ida memastikan korban berada di tempat yang aman. Pasalnya, pemkot berkomitmen untuk mendampingi melalui selter yang sudah disiapkan. Saat ini, pihaknya tengah berupaya untuk mengobati rasa trauma yang muncul.
"Jadi, pendamping kami melakukan pendekatan sambil menggali apa yang dirasakan dan apa yang dipikirkan korban," tuturnya.
Dia mengungkapkan, korban mengaku sering mendapatkan siksaan dari ibu kandungnya ketika berbuat kesalahan. Mulai dari disundut dengan rokok hingga disiram air panas. Kondisi korban terkuak oleh pihak sekolah.
“Kami mendorong peran sekolah untuk selalu awareterhadap anak didiknya," pungkasnya. (hil/rek)
Editor : Jay Wijayanto