Ekonomi Gresik Hobi & Lifestyle Jatim Mancanegara Nasional Olahraga Person of The Year Selebriti Sidoarjo Surabaya Tekno & Oto Wisata & Kuliner

Perkuat Nuansa Pecinan di Jalan Kembang Jepun Surabaya, Pertokoan Kini Pakai Papan Nama Aksara Tionghoa

Hildan Sepka • Senin, 15 Januari 2024 | 12:10 WIB
CHINA TOWN: Sejumlah toko di Jalan Kembang Jepun sudah memasang papan nama beraksara Tionghoa dan Indonesia.
CHINA TOWN: Sejumlah toko di Jalan Kembang Jepun sudah memasang papan nama beraksara Tionghoa dan Indonesia.

SURABAYA – Pemkot Surabaya mengoptimalkan daya tarik wisata kota lama. Salah satunya di kawasan Jalan Kembang Jepun.

Salah satunya adalah pemasangan papan nama beraksara Tionghoa (hanzi) di sepanjang Jalan Kembang Jepun yang selama ini digunakan sebagai wisata kya kya tersebut.

Kepala Dinas Kebudayaan, Kepemudaan, dan Olahraga serta Pariwisata (Disbudporapar) Kota Surabaya Hidayat Syah mengatakan, pihaknya menggandeng dinas terkait lain.

Kolaborasi itu untuk memastikan pengerjaan zona tematik Pecinan berjalan sesuai konsep besar pengembangan kawasan kota lama.

“Akhir tahun lalu kita sudah berkoordinasi dengan pemilik usaha di sana. Kita meminta kerja sama untuk membuat papan nama bergaya Tionghoa,” ujar Hidayat, Minggu (14/1).

Upaya itu untuk menghidupkan kawasan tersebut. Sejak diresmikan awal 2023 lalu, konsep wisata 

Sejak diresmikan awal 2023 lalu, konsep wisata di kawasan Kya-Kya Kembang Jepun masih perlu pengembangan. Untuk memperkuat nyawa Pecinan melalui penataan dan dekorasi yang terus dilakukan.

“Salah satunya dengan pemasangan papan-papan nama toko menggunakan aksara Tionghoa dan bahasa Indonesia. Itu dilakukan sepanjang Jalan Kembang Jepun, dipasang seperti itu,” terangnya.

Pemasangan ornamen itu dilakukan bertahap. Untuk sementara, katanya, pemilik bangunan yang memasang papan nama bergaya Tionghoa itu masih separuh. Namun, progres tersebut masih terus berjalan tanpa kendala. 

Pihaknya sudah memberi panduan khusus untuk pemasangan itu. Mulai dari dimensi ukuran dan gaya penulisan.

"Harapannya dari pemilik bangunan juga bisa berpartisipasi untuk ikut secara mandiri memasang papan nama seperti yang sudah dipasang di bangunan yang lain,” jelasnya.

Photo
Photo

Hidayat menuturkan, banyak aspek yang perlu dikerjakan untuk menguatkan konsep pecinan.

Selain ornamen, pihaknya bakal mengecat bangunan. Dia pun akan melebarkan pedestrian.

“Tetapi pelebaran pedestrian ini masih menunggu kajian-kajian dan sosialisasi. Untuk saat ini ada spot menarik wisatawan seperti mural Kya-Kya dan Becak Wisata,” bebernya.

Menurutnya, kawasan Pecinan tampil lebih menarik saat malam hari. Sebab, dekorasi di kawasan tersebut lebih cocok dinikmati saat malam hari. Terutama ornamen lampion.

“Kami mendorong ada yang bisa membuka usaha kuliner di sana. Jadi bisa dinikmati bukan hanya weekend, tetapi setiap hari dari pagi sampai malam,” urainya.

Sedangkan di akhir pekan mulai Jumat-Minggu, masyarakat dan pengunjung juga bisa menikmati wisata kuliner di Kya-Kya Kembang Jepun.

Ada beragam stand makanan yang buka lapak dengan iringan live music berbahasa Mandarin yang semakin memperkuat nuansa Pecinan.

“Pengembangan lebih lanjut sebenarnya diharapkan bisa seperti di Jalan Tunjungan. Harapannya bukan hanya stand UMKM yang berjualan tetapi ada yang membuka stand di persil bangunan,” ungkap Hidayat.

Proyeksinya, kawasan tersebut bakal makin cantik. Sebab, Disbudporapar menggandeng dinas terkait untuk menyuguhkan konsep yang lebih kental Pecinan.

Salah satunya dengan menanam pohon baru. "Contohnya, kami akan tanam pohon tabebuya semua. Kami bekerja sama dengan dinas lingkungan hidup (DLH)," terangnya.

Hidayat mengungkapkan, kabel-kabel utilitas di kawasan Pecinan juga bakal ditata dengan boks (ducting). Tujuannya penataan jaringan di bawah tanah. Sehingga, jaringan kabel tidak semrawut lagi.

"Setelah itu, baru dilakukan pengecatan sesuai dengan tema pecinan," tutut mantan kepala Badan Pendapatan Daerah tersebut.

Hidayat menegaskan, pengembangan kawasan Kutho Lawas Suroboyo ditargetkan tuntas pada akhir Mei sebelum ulang tahun Hari Jadi Kota Surabaya (HJKS).

Namun demikian, ia mengakui penyelesaian target itu juga bergantung pada kondisi di lapangan. "Kami juga sudah sosialisasi kepada pemilik properti untuk bersama-sama menghidupkan kawasan Kutho Lawas Suroboyo di wilayah utara," imbuhnya. (hil/jay)

Editor : Jay Wijayanto
#hanzi #papan nama #Disporapar #aksara tionghoa #pemkot surabaya #Kya Kya Surabaya #jalan kembang jepun