SURABAYA - Sensus sampah plastik yang dilakukan di 28 kabupaten/kota di 13 provinsi sepanjang tahun 2022-2023 mengumpulkan 25.733 sampah plastik.
Sampah ini didominasi kemasan plastik (sachet) dan mengidentifikasi produsen pencemar terbesar.
Hasil penelitian yang dilakukan Badan Riset Urusan Sungai Nusantara (BRUIN) berhasil mengumpulkan sekitar 25 ribu lebih sampah plastik yang disusuri dan diaudit sampah di 64 titik lokasi.
”Melalui sensus sampah plastik seluruh Indonesia, BRUIN meminta kepada para produsen untuk bertanggung jawab terhadap sampah plastik mereka yang bocor di lingkungan terutama lingkungan perairan.,” kata Koordinator Sensus Sampah Plastik, Kholid Basyaiban di Surabaya, kemarin.
Terkait adanya produsen yang memproduksi galon plastik sekali pakai, Kholid mengatakan sebagai solusinya adalah harus menggunakan bahan berdaur ulang dalam artian masyarakat harus menggunakan produk-produk bisa digunakan Kembali.
Kholid mempertanyakan dengan gencarnya pemerintah memerangi polusi plastik dengan memikirkan berbagai solusi kenapa muncul produk galon sekali pakai.
Sementara, galon sekali pakai menimbulkan banyak masalah.
“Galon sekali pakai akan menimbulkan masalah baru karena pasti ada sampah di mana-mana, terutama sampah yang dihasilkan dari daerah-daerah yang belum ada layanan pengelolaan sampah” ujar Kholid
Sementara itu, Guru Besar Hukum Lingkungan sekaligus Wakil Direktur Bidang Riset, Pengabdian Masyarakat, Digitalisasi, dan Internasional Sekolah Pascasarjana Universitas Airlangga Surabaya, Prof. Dr. Suparto Wijoyo, menyayangkan sikap abai dari produsen sebagai akar polusi plastik di Indonesia.
Ia berharap, pemerintah mengambil langkah lebih tegas terhadap para produsen nakal.
“Solusinya adalah penguatan penegakan hukum dan pengawasan bagi industri pencemar sebagai cara memutus keran polusi plastik di Indonesia,” tegas Prof Suparto.
Sensus Sampah Plastik ini adalah audit sampah plastik di perairan yang pertama kali dilakukan di jumlah titik terbanyak di Indonesia, yakni di DKI Jakarta, Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, Bengkulu, Lampung, Kalimantan Selatan, Nusa Tenggara Barat, Sulawesi Tengah, Gorontalo, Maluku Utara, Maluku, dan Papua Barat.
Penelitian dilakukan.dengan metode yang variatif dan lengkap, sehingga menjadi penelitian sampah yang paling komprehensif di Indonesia.
Sensus Sampah Plastik dilakukan di periode Maret 2022 hingga November 2023, dengan melibatkan 270 relawan dari 38 komunitas/kampus. (rmt/rak)
Editor : Jay Wijayanto